Ekonomika Pancasila: Ekonomi Heterodoks Jalan Kemandirian Kita

Rabu 14 Okt 2026, 11:45 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

Kelima, kontekstualisasi ekonomi dan politik di negara masing-masing. Ekonomi heterodoks meyakini kejeniusan lokal yang sudah teruji di masing-masing negara. Dalam konteks nasional (seperti wacana yang berkembang di Mazhab Tebet atau pemikiran berbasis Konstitusi), agenda heterodoks diterjemahkan sebagai upaya membangun kedaulatan dan kemartabatan ekonomi.

Para ekonom heterodoks mendorong pemerintah bertindak sebagai regulator yang berkeadilan (melalui gotong royong dan kekeluargaan) demi memastikan kekayaan alam dikelola oleh dan untuk rakyat, bukan membiarkan negara menjadi kompetitor bagi rakyatnya sendiri dan tidak menyerahkannya ke konglomerat, oligark dan penguasa bisnis hitam lainnya.

Kita sadar, ekonomi yang kini berlangsung adalah ekopol pemiskinan, pembodohan dan penyakitan. Maka, ekonom heterodoks bekerja dalam roadmap panca dharma, yaitu: rekonstitusi, renasionalisasi, rekapitalisasi, restrukturalisasi, dan reindustrialisasi.

Dalam konteks sosial politik, ekonom heterodoks menyajikan ekopol harmoni, konsensual, damai dan tenang; lingkungan yang aman dan nyaman; hubungan antar manusia yang harmonis dan saling menghormati serta berwatak theo-antro-eco sentris.

Singkatnya, ekonomi heterodoks terus berpikir, menulis dan merumuskan ilmu pengetahuan ekonomi dan politik yang berkeadilan, berspiritual, berkemakmuran dan berdaulat agar jadi nalar sadar waktu. Juga menjadi ilham peracik kedalaman peradaban. Tentu harus sambil diingat:"pertarungan ilmu ekopol sebenarnya pertempuran energi. Sebuah kisah dan epik panjang yang terkadang tak disadari".


Berita Terkait


News Update