DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Genangan air limbah berbau menyengat membasahi Jalan Naming Debotin RT 07 RW 19, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok.
Kondisi yang berlangsung selama lebih dari satu tahun ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mulai memicu penyakit kulit pada anak-anak hingga kecelakaan lalu lintas.
Berdasarkan pantauan Poskota di lokasi pada Selasa, 13 Oktober 2026, genangan air tersebut terus membasahi badan jalan meski sedang tidak turun hujan. Air kotor berlumut ini diduga berasal dari luapan gorong-gorong tersumbat yang menampung limbah tempat pencucian pedagang di Pos Shelter Stasiun Depok Baru.
Taspinah, 58 tahun, seorang pedagang minuman yang berjualan tepat di depan lokasi genangan, menuturkan bahwa kondisi lingkungan semakin memburuk karena tidak adanya petugas kebersihan yang melintas dalam setahun terakhir.
Baca Juga: Aksi Pencurian Rumah Kosong di Depok Viral, Polisi Lakukan Cek TKP
"Airnya bau, banyak sampah, dan jadi sarang nyamuk. Dulu setiap hari ada petugas yang membersihkan, tapi sudah hampir setahun tidak pernah kelihatan lagi. Pinggir jalan jadi jember dan kotor," ujar Taspinah kepada Poskota, Selasa.
Dampak genangan ini dirasakan langsung oleh warga sekitar. Rahmat, 33 tahun, warga RT 07 RW 19, mengungkapkan bahwa putrinya yang berusia 4 tahun mengalami gatal-gatal setelah tersentuh air luapan tersebut. Bahkan, keponakannya yang berusia satu tahun sempat dirawat di rumah sakit akibat diare.
Selain masalah kesehatan, permukaan jalan yang licin berlumut sering menyebabkan pengendara sepeda motor terjatuh.
"Rumah saya berhadapan langsung dengan lokasi. Bau busuk dan nyamuk sangat mengganggu. Bukan cuma penyakit, pemotor juga sering kecelakaan karena jalannya licin," kata Rahmat.
Laporan Warga Tak Direspon

Rahmat menyebut unsur Forkopimka termasuk Camat Pancoran Mas, Lurah Depok, dan Dinas PUPR Kota Depok sebenarnya pernah meninjau lokasi. Hasil pengecekan menunjukkan sedimentasi lumpur di dalam gorong-gorong sudah mencapai lebih dari 1 meter dengan kedalaman air sekitar 40 cm.
Meski kerja bakti sempat digelar bersama warga, upaya tersebut tidak menyelesaikan masalah karena saluran air dasarnya memang tersumbat dan tidak memiliki pembuangan akhir.
Warga juga mengaku telah melaporkan masalah ini melalui aplikasi resmi Pemkot Depok, seperti SP4N Lapor dan Sapa Warga, sejak 10 bulan lalu. Namun hingga kini, belum ada tindakan konkrit dari pemerintah daerah.
"Kami ini warga taat pajak, bahkan PBB untuk lahan parkir motor naik sampai 100 persen. Tapi giliran ada masalah seperti ini, tidak ada upaya perbaikan nyata. Kami cuma ingin jalan kembali normal, buatkan sodetan atau perbaiki saluran buntu itu," tegas Rahmat.
Baca Juga: Pagar Tembuk SDN 03 Tapos Ambruk Timpa 2 Murid, Disdik Depok Janji Perbaiki Tahun Ini
Ketua RT 07 RW 19, Marulloh, menjelaskan bahwa sumber luapan air berasal dari gorong-gorong di wilayah RT 08 yang menampung limbah pedagang. Namun, imbas luapan airnya mengalir dan menggenangi wilayah RT 07 yang berada di dataran lebih rendah.
Marulloh mengkhawatirkan kondisi ini akan semakin parah saat memasuki puncak musim hujan, mengingat saluran pembuangan utama yang mengarah ke Kali Cabang Barat dan Situ Peladen tidak berfungsi optimal.
"Kalau masuk musim hujan, air luapan ini sangat rawan masuk ke dalam rumah warga. Kami berharap Pemkot Depok segera turun tangan membenahi saluran ini," tutur Marulloh.
Hingga berita ini diturunkan, Camat Pancoran Mas Mustakim dan Kepala Dinas PUPR Kota Depok Yodi sudah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp serta sambungan telepon, namun belum memberikan respons.
