“Tidak ada rivalitas sepak bola yang dapat membenarkan tindakan yang membahayakan keselamatan orang lain,” tegas PP The Jakmania dalam pernyataannya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa penolakan terhadap kekerasan harus berlaku bagi semua pihak. Rivalitas antara suporter Persija dan Persib semestinya tidak berkembang menjadi tindakan yang membahayakan pemain, ofisial, maupun masyarakat.
Meski demikian, dugaan kekerasan terhadap anggota Jakmania Cikampek perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan kronologi dan pihak-pihak yang terlibat.
Imbau Anggota Tidak Terprovokasi Informasi di Media Sosial
Untuk mencegah situasi semakin memanas, PP The Jakmania mengimbau seluruh anggotanya agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing oleh informasi yang beredar.
Anggota juga diminta tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi maupun melakukan tindakan yang berpotensi memperkeruh keadaan.
“Kami mengimbau seluruh anggota The Jakmania untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi,” demikian imbauan tersebut.
PP The Jakmania meminta para suporter memberikan kesempatan kepada aparat berwenang untuk melakukan penyelidikan. Langkah ini dinilai penting agar penanganan kasus berjalan berdasarkan fakta, bukan spekulasi atau sentimen antarsuporter.
Pada akhirnya, insiden di Batang menjadi pengingat bahwa persaingan di lapangan seharusnya tidak menghilangkan rasa saling menghormati. Dukungan terhadap klub tetap dapat disampaikan dengan penuh semangat tanpa mengorbankan keselamatan orang lain. Menjaga sportivitas dan menolak kekerasan menjadi tanggung jawab bersama, baik bagi pemain, ofisial, maupun seluruh kelompok suporter sepak bola Indonesia.
