Adapun Transformasi Blok M Fase Ultimate mencakup lima perubahan utama, yakni revitalisasi terminal, pengembangan kawasan mixed-use, peningkatan aksesibilitas dan integrasi, pengembangan destinasi komersial baru, serta penambahan ruang terbuka publik.
Tuhiyat mengatakan ruang terbuka publik nantinya akan menjadi lima kali lebih besar dibandingkan kondisi saat ini. Sementara luas kawasan secara keseluruhan diproyeksikan menjadi 10 kali lebih besar.
Menurutnya, Blok M Hub saat ini telah berusia 34 tahun. Meski demikian, kawasan tersebut masih menjadi pusat aktivitas masyarakat dengan lebih dari 25.000 pengunjung setiap hari.
“Terminal dan kawasan retail serta podium kami targetkan akan selesai dan beroperasi di tahun 2029. Sementara untuk mixed-use, secara bertahap akan diselesaikan pada tahun berikutnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pramono juga mengungkapkan proses pengembangan Blok M sempat mengalami kondisi maju-mundur. Ia menyebut persoalan tersebut bukan berasal dari pihak pengembang, melainkan proses birokrasi.
Baca Juga: Tarif Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta Naik Jadi Rp15.000 Mulai 1 September 2026
Menurut Pramono, Pemprov DKI kemudian menerbitkan Pergub Nomor 11 Tahun 2026 untuk memberikan kemudahan dalam sejumlah proses, termasuk KLB dan SLF.
“Saya katakan, sudahlah, yang birokrasi yang seperti ini harus dirapikan, dipotong, dibuat mudah,” ucapnya.
Pramono berharap transformasi Blok M dapat menjadi contoh pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) di Jakarta.
Ia menegaskan pembangunan tersebut tidak hanya bertujuan membuat Jakarta terlihat lebih modern, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Saya memang tidak ingin melakukan sesuatu yang bersifat mercusuar, tetapi dampaknya ataupun manfaatnya bagi masyarakat sebenarnya tidak terlalu banyak,” tandas Pramono. (M4)
