Februari 2027: puncak diprediksi terjadi di 190 ZOM atau 16,79 persen luas daratan.
Selain awal musim yang mundur, durasinya juga diperkirakan lebih singkat di sejumlah wilayah. BMKG mencatat 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan berpotensi mengalami musim hujan yang lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Perubahan pola tersebut penting diperhatikan karena berkaitan dengan berbagai aktivitas, terutama pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga persiapan menghadapi bencana.
Baca Juga: BMKG Sebut Musim Hujan Mundur, Ini Dampak Kemarau Panjang bagi Kesehatan Warga Jakarta
Masyarakat Perlu Bersiap Menghadapi Perubahan Cuaca
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan sektor terkait memanfaatkan periode datangnya hujan untuk mengisi waduk serta memperluas area tanam. Di sisi lain, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi basah.
Banjir, tanah longsor, dan angin kencang menjadi sejumlah ancaman yang perlu diantisipasi ketika musim hujan mulai masuk.
"Namun demikian bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat," ujar Faisal.
Dengan kondisi tersebut, pertanyaan kapan musim hujan tiba tidak bisa dijawab dengan satu tanggal untuk seluruh Indonesia. Sebagian wilayah diperkirakan mulai mengalaminya pada November 2026, sedangkan daerah lain menyusul pada Desember atau periode berikutnya.
Masyarakat sebaiknya tetap mengikuti pembaruan prakiraan BMKG di wilayah masing-masing. Informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk menyesuaikan aktivitas, mempersiapkan lingkungan rumah, sekaligus mengantisipasi potensi cuaca ekstrem selama musim hujan 2026/2027.
.jpg)