Lonjakan Kasus ISPA di Jakarta 15 Persen, Epidemiolog Wanti-Wanti Bahaya Klaim Prematur Influenza A

Selasa 22 Sep 2026, 22:47 WIB
Ilustrasi pasien influenza. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi pasien influenza. (Sumber: Poskota)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pertambahan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebanyak 15 persen di Jakarta tidak serta-merta mengindikasikan lonjakan spesifik virus Influenza A.

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman menjelaskan, ISPA merupakan sindrom klinis agregat dari Puskesmas yang disebabkan berbagai jenis patogen pernapasan.

Ia menuturkan, gejala batuk dan demam bisa dipicu oleh Rhinovirus, Adenovirus, RSV, hingga bakteri, sehingga diagnosis Influenza A wajib dibuktikan melalui tes laboratorium PCR atau antigen.

"Angka kasus ISPA naik itu bukan diagnosis spesifik, melainkan agregat gejala. Langkah Dinkes Jakarta menyebut lonjakan ini sebagai fenomena musiman pancaroba sudah sangat tepat," kata Dicky, Selasa, 22 September 2026.

Baca Juga: Influenza A di Indonesia Meningkat, Apa Bedanya dengan Batuk Pilek Biasa? Cek Gejala dan Risikonya

Soroti Kematian 3 Anak di Majalengka

Menanggapi kabar duka mengenai kematian beruntun tiga anak dalam satu keluarga di Majalengka usai mengalami demam tinggi dan kejang, Dicky meminta publik tidak menyampurkannya dengan fenomena ISPA Jakarta.

Ia menilai klaim dugaan Influenza A pada kasus Majalengka masih bersifat hipotesis awal dan membutuhkan verifikasi hasil sampel swab serta investigasi lingkungan yang menyeluruh.

Gejala kejang demam beruntun pada anak memiliki banyak diagnosis banding, mulai dari meningitis, ensefalitis, sepsis, hingga difteri berat.

"Jangan membuat framing prematur sebelum tes lab keluar. Menyebutnya Influenza A secara terburu-buru berisiko memicu kepanikan berlebih atau malah membuat masyarakat meremehkan risiko karena menganggapnya sekadar flu biasa," ujarnya.

Baca Juga: Lonjakan Kasus Influenza di Bekasi, Warga Diminta Waspadai Perubahan Cuaca

Tekankan Perilaku Hidup Bersih

Meskipun sistem rujukan rumah sakit di Jakarta dilaporkan masih aman dan mampu menampung pasien, masyarakat diimbau untuk tetap konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

ia mengingatkan para orang tua yang memiliki anak balita untuk segera melarikan anak ke fasilitas kesehatan terdekat jika mendapati tanda bahaya seperti demam tinggi yang memicu kejang, penurunan kesadaran, atau sesak napas.

"Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus tetap waspada terutama jika di rumah terdapat kelompok rentan seperti balita, lansia, dan penderita komorbid," ucapnya.


Berita Terkait


News Update