GIFA-METEC Indonesia 2026 Perkuat Ekosistem dan Dorong Hilirisasi Industri Logam

Kamis 20 Agu 2026, 13:36 WIB
Press conference pameran GIFA dan METEC Indonesia 2026 yang digelar 9-12 September di JIExpo Jakarta. (Sumber: Poskota/Aldi Harlanda Irawan)
Press conference pameran GIFA dan METEC Indonesia 2026 yang digelar 9-12 September di JIExpo Jakarta. (Sumber: Poskota/Aldi Harlanda Irawan)

POSKOTA.CO.ID - Perkembangan industri logam nasional yang semakin pesat membuat kebutuhan terhadap teknologi, inovasi, dan kemitraan industri ikut meningkat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu fokus penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026, yang kembali mempertemukan berbagai pelaku industri pengecoran logam, metalurgi, aluminium, besi dan baja, hingga manufaktur hilir.

Memasuki edisi ketiga, GIFA dan METEC Indonesia 2026 akan digelar pada 9-12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta. Pameran yang diselenggarakan Messe Dusseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia, bagian dari Informa Markets, ini diproyeksikan menghadirkan sekitar 260 perusahaan peserta dan 6.000 pengunjung profesional.

Beragam teknologi yang ditampilkan mencakup pengecoran logam, metalurgi, pengolahan besi dan baja, logam non-ferrous, fabrikasi, otomasi, hingga solusi manufaktur berkelanjutan.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 20 Agustus 2026 Naik Drastis Jadi Rp2.725.000 per Gram, Untung Jual Sekarang?

GIFA dan METEC Hubungkan Teknologi di Sepanjang Rantai Industri Logam

GIFA Indonesia akan menyoroti teknologi di sektor pengecoran logam, mulai dari proses peleburan, pembuatan cetakan dan coremaking, hingga simulasi, otomasi, serta pengujian.

Sementara itu, METEC Indonesia menghadirkan teknologi yang berkaitan dengan proses metalurgi dan produksi logam. Cakupannya meliputi industri besi dan baja, logam non-ferrous, teknologi tungku, refractory, pengerolan, pembentukan logam, pengendalian proses, hingga rekayasa pabrik.

Kehadiran kedua pameran tersebut diharapkan dapat mempertemukan produsen, pemasok teknologi, perusahaan engineering, pengembang proyek, serta berbagai pemangku kepentingan untuk mencari solusi dari tahap bahan baku hingga produk jadi.

Investasi Hilirisasi Buka Kebutuhan Teknologi Baru

Penguatan industri logam juga berjalan beriringan dengan agenda hilirisasi pemerintah. Pada semester pertama 2026, subsektor logam dasar, barang logam, mesin, dan peralatan mencatat investasi sebesar US$8,44 miliar atau 14,9 persen dari total investasi nasional.

Pada kuartal kedua 2026, investasi hilirisasi bauksit juga mencapai US$2,25 miliar, lebih tinggi dibandingkan investasi hilirisasi nikel yang berada di angka US$1,65 miliar. Nilai investasi hilirisasi bauksit tersebut disebut mengalami peningkatan hingga 193 persen.

Peningkatan investasi dan kapasitas produksi kemudian menciptakan kebutuhan baru, mulai dari teknologi proses, rekayasa, infrastruktur, sistem pengendalian mutu, hingga kemampuan manufaktur untuk menghasilkan produk bernilai tambah di dalam negeri.

Baca Juga: MDR QRIS 0 Persen Diperluas, Berlaku Mulai 1 Oktober 2026

Aluminium Pavilion Hadir untuk Pertama Kalinya

Sektor aluminium menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam GIFA dan METEC Indonesia 2026. Pengembangan fasilitas di Mempawah, Kalimantan Barat, misalnya, mencakup rencana pembangunan smelter aluminium primer berkapasitas 600.000 ton per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery Tahap II dengan kapasitas 1 juta ton alumina per tahun.

Di sisi lain, kapasitas terpasang smelter aluminium Inalum disebut berpotensi mencapai 1,975 juta ton pada 2026, sementara kebutuhan domestik aluminium primer berada di kisaran 520.000 ton per tahun.

Kondisi tersebut membuka peluang pengembangan industri hilir aluminium, termasuk produksi lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, hingga berbagai komponen manufaktur.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Aluminium Pavilion akan diperkenalkan untuk pertama kalinya. Area ini akan menampilkan berbagai teknologi mulai dari peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, hingga material handling.

Baca Juga: Jadwal Diskon Tambah Daya PLN 50 Persen Agustus 2026 Berlaku Sampai Kapan? Cek Periode Promo, Harga, dan Cara Klaimnya

Peluang Kemitraan Industri Semakin Terbuka

Perubahan kebutuhan industri dari tahap pembangunan kapasitas menuju produksi operasional turut menciptakan peluang baru bagi penyedia teknologi. Beberapa kebutuhan yang diperkirakan semakin meningkat mencakup simulasi pengecoran, sistem pengendalian mutu digital, peralatan fabrikasi, pemotongan presisi, material handling, dan otomasi.

Bagi industri hilir dan original equipment manufacturer (OEM), perkembangan tersebut dapat menjadi momentum untuk membangun jaringan pemasok sekaligus memastikan standar kualitas sejak tahap awal produksi.

GIFA dan METEC Indonesia 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Industri

Penyelenggaraan GIFA dan METEC Indonesia 2026 menjadi bagian dari upaya mempertemukan perkembangan investasi industri dengan kebutuhan teknologi manufaktur. Ketika Indonesia mulai bergerak dari pembangunan kapasitas menuju implementasi produksi, akses terhadap teknologi dan keahlian teknis menjadi semakin penting.

Melalui pameran ini, pelaku industri dapat mengeksplorasi teknologi terbaru, membangun kemitraan bisnis, sekaligus mencari solusi untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi.

Dengan agenda hilirisasi yang terus berkembang, GIFA dan METEC Indonesia 2026 diharapkan dapat menjadi salah satu wadah untuk memperkuat ekosistem industri logam Indonesia, dari pengolahan bahan baku hingga menghasilkan produk bernilai tambah di dalam negeri.


Berita Terkait


News Update