Aceh, terutama Kota Lhokseumawe, mengalami antrean kendaraan hingga sekitar dua kilometer di sejumlah SPBU.
Bogor dan kawasan Jabodetabek, termasuk Cibinong, Dramaga, Bojonggede, Tanah Sareal, serta beberapa titik di Kota dan Kabupaten Bogor.
Kepulauan Bangka Belitung, khususnya Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, yang dilaporkan mengalami keterbatasan pasokan.
Sulawesi Tenggara, terutama Kota Kendari, di mana pengendara harus berpindah dari satu SPBU ke SPBU lain untuk memperoleh Pertalite.
Sumatera Barat, yang sempat mengalami keterlambatan distribusi akibat hambatan akses menuju Kota Padang.
Dampak Kelangkaan Pertalite terhadap Aktivitas Masyarakat
Kelangkaan Pertalite memberikan efek berantai terhadap aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Pengemudi ojek online, sopir angkutan umum, hingga pelaku UMKM harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mengantre di SPBU.
Kondisi tersebut turut memengaruhi distribusi barang dan layanan transportasi di beberapa daerah. Semakin panjang antrean, semakin besar pula potensi berkurangnya produktivitas masyarakat yang mengandalkan kendaraan sebagai alat utama bekerja.
Meski demikian, situasi ini bersifat dinamis karena pasokan BBM terus dikirim sesuai jadwal distribusi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
Baca Juga: HP Gaming 2 Jutaan Paling Worth It Juli 2026, Performa Ngebut Harga Bersahabat
Langkah Pertamina Menjaga Pasokan Tetap Stabil
Pertamina menyatakan terus melakukan evaluasi terhadap distribusi BBM di seluruh Indonesia. Perusahaan juga menyesuaikan pengiriman ke wilayah yang mengalami lonjakan konsumsi agar pasokan kembali normal secepat mungkin.
Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari Pertamina maupun pemerintah daerah mengenai kondisi stok BBM di wilayah masing-masing. Dengan pemantauan distribusi secara berkala, diharapkan antrean di SPBU dapat berangsur berkurang seiring masuknya pasokan baru.
Kelangkaan Pertalite pada Juli 2026 menjadi gambaran bahwa tingginya permintaan dapat memengaruhi ketersediaan BBM di lapangan apabila tidak diimbangi distribusi yang memadai. Lonjakan konsumsi akibat peralihan pengguna dari BBM non-subsidi, ditambah proses distribusi yang membutuhkan waktu, menjadi penyebab utama munculnya antrean di sejumlah SPBU.
