Gubernur Jakarta Pramono Anung saat meninjau proyek pembangunan Flyover Latumenten Grogol, Jakarta Barat, Kamis, 2 Juli 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad).)

JAKARTA RAYA

Telan Anggaran Rp259 Miliar, Pramono Targetkan Flyover Latumenten Selesai Desember 2026

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan proyek pembangunan Flyover Latumenten di Grogol, Jakarta Barat akan rampung pada Desember 2026 mendatang. 

Adapun, Flyover Latumenten ini akan memisahkan arus lalu lintas kendaraan dari perlintasan kereta api sehingga lalu lintas di kawasan tersebut menjadi lebih lancar.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, mengatakan proyek ini merupakan salah satu proyek strategis prioritas Pemprov DKI untuk meningkatkan kualitas infrastruktur transportasi sekaligus mengurai kepadatan lalu lintas di Jakarta Barat.

"Flyover Latumenten ini salah satu flyover yang paling ditunggu di Jakarta. Karena di sini, pagi, siang, maupun sore, kemacetannya sangat tinggi. Maka ketika diusulkan, saya menyampaikan bahwa ini menjadi prioritas utama untuk mengurai kemacetan di kawasan Grogol, Pluit, Slipi, dan sekitarnya," ujar Pramono saat meninjau proyek Flyover Latumenten, Grogol, Jakarta Barat, pada Kamis, 2 Juli 2026.

Baca Juga: Balita Tewas di Lubang Proyek Manggarai, DPRD Jakarta Minta Pemprov Evaluasi Keamanan

Pramono menyampaikan, anggaran untuk proyek jembatan layang itu mencapai Rp259 miliar dengan progres yang kini telah mencapai 55,2 persen. 

"Sekarang progresnya sudah mencapai 55,2 persen dengan anggaran pembangunan Rp259 miliar," ucap Pramono. 

Pramono menargetkan, proyek tersebut akan rampung pada akhir tahun 2026.

"Saya berharap proyek ini selesai tepat waktu, yakni pada 15 Desember 2026, sehingga lalu lintas di salah satu kawasan yang selama ini paling banyak dikeluhkan bisa menjadi lebih lancar," ungkap dia.

Baca Juga: Jaga Ekosistem Laut Kepulauan Seribu, Pemprov DKI Lakukan Transplantasi 2.671 Substrat Karang di Empat Pulau

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo, mengatakan penutupan perlintasan sebidang antara jalan dan rel kereta api tidak akan menghilangkan fungsi jalan yang selama ini digunakan masyarakat.

Menurutnya, yang ditutup hanya perlintasan kereta api, sementara akses kendaraan untuk berputar arah tetap tersedia.

"Terkait penutupan perlintasan antara jalan dengan rel kereta api nanti setelah ditutup perlintasannya, jalan ini tetap berfungsi, dari arah selatan mau balik ke selatan lagi, itu masih bisa dimanfaatkan untuk berputar di lokasi ini. Jadi ini tidak ditutup, yang ditutup hanya di perlintasan kereta api. Begitu pula yang dari arah utara, utara mau balik ke utara itu masih bisa berputar," ujar Heru. 

Heru mengatakan, masyarakat nantinya dapat memanfaatkan akses penyeberangan menuju halte Transjakarta yang berada di atas flyover.

Baca Juga: Pemprov DKI Finalisasi Program Padat Karya, Syarat Utama Wajib KTP Jakarta

"Dan juga masyarakat nanti bisa memanfaatkan karena jalan perlintasan ditutup bisa menyeberang ke sini untuk naik ke atas. Ke atas ini untuk naik ke halte Busway," ungkap dia. 

Heru menjelaskan, halte Transjakarta akan dibangun di dua sisi flyover, yakni sisi barat dan timur. 

Dengan demikian, pengguna transportasi umum dapat lebih mudah berpindah moda dari kendaraan pribadi maupun kereta api menuju layanan bus rapid transit tersebut.

"Nantinya halte Busway ada di flyover, di atas. Jadi sisi barat dan sisi timur ada halte Busway-nya masyarakat pengguna itu bisa memanfaatkan halte Busway yang ada di sisi timur dan sisi barat. Dan juga dari Stasiun Kereta Api Grogol itu juga bisa langsung ke sini," ujar dia. 

Menurut Heru, salah satu manfaat terbesar dari pembangunan flyover ini adalah berkurangnya waktu tempuh perjalanan. Selama ini arus kendaraan di kawasan Latumenten dan Grogol sering tersendat akibat aktivitas buka-tutup pintu perlintasan setiap kali kereta melintas.

"Tapi nantinya ini sudah tidak ada gangguan lagi sehingga kendaraan bisa melintas langsung di atas flyover tanpa ada gangguan apa pun," ungkap dia. 

Heru mengungkapkan, kendaraan dapat melintas langsung di atas jalur kereta tanpa harus menunggu kereta lewat. Hal itu diyakini akan membuat arus lalu lintas menjadi lebih lancar dan efisien.

"Jadi bisa langsung. Waktunya itu singkat sekali, mungkin sekitar 10-15 menit yang tadinya ketahan di bawah, nanti sudah tidak ketahan lagi, langsung bablas," ujar dia. 

Sebagai informasi, Flyover Latumenten yang mengarah ke Slipi memiliki panjang 435 meter dan lebar 11 meter dengan kapasitas dua lajur kendaraan umum serta satu lajur busway. 

Sementara itu, flyover yang mengarah ke Grogol memiliki panjang 420 meter dan lebar 11 meter dengan kapasitas dua lajur kendaraan umum serta satu lajur busway.

Dengan sisa waktu pengerjaan sekitar lima bulan, percepatan pembangunan terus dilakukan secara simultan agar target operasional pada akhir 2026 dapat tercapai dan memberikan manfaat bagi mobilitas warga Jakarta.

Dinas Bina Marga DKI Jakarta bersama seluruh pihak terkait berkomitmen menjaga kualitas pekerjaan, keselamatan konstruksi, serta meminimalkan dampak terhadap aktivitas masyarakat selama proses pembangunan berlangsung.

Selama masa konstruksi, akan dilakukan sejumlah penyesuaian rekayasa lalu lintas. Masyarakat diimbau mematuhi rambu lalu lintas, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta mengutamakan keselamatan saat melintas di area pekerjaan.

Tags:
Pemprov DKI JakartaPramono AnungFlyover Latumenten

M Tegar Jihad Al Faruq

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor