Ipda Mohamad Irfan Fauzi saat mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an di sela-sela misi perdamaian PBB di Sudan. (Sumber: Istimewa)

JAKARTA RAYA

Menebar Manfaat dari Darfur hingga Serang: Kisah Ipda Irfan Mengajar, Membangun dan Menginspirasi

TANGERANG, POSKOTA.CO.ID - "Khairunnas anfa'uhum linnas" sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kalimat itu menjadi pegangan hidup Ipda Mohamad Irfan Fauzi hingga hari ini.

Prinsip sederhana tersebut pula yang membawanya melakukan hal yang tidak tercantum dalam tugas resmi saat menjalani misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Darfur, Sudan, pada 2015 hingga 2017, yakni mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an.

Kini, Irfan bertugas sebagai Kasi Propam Polresta Tangerang. Namun jauh sebelum menduduki jabatan tersebut, ia telah menapaki berbagai medan pengabdian.

Mulai dari menjadi anggota Brimob, pasukan perdamaian PBB di Sudan, petugas haji Indonesia di Arab Saudi, membangun pondok pesantren di Kota Serang, hingga mengharumkan nama daerah melalui cabang olahraga paramotor.

Baca Juga: May Day 2026 di Depok: Kepolisian dan Buruh Sepakat Jaga Aksi Tetap Damai

Bagi Irfan, semua perjalanan itu bermuara pada satu tujuan yang sama: memberi manfaat bagi orang lain.

Nilai tersebut telah tumbuh sejak kecil. Ia lahir dari keluarga yang dekat dengan lingkungan pesantren. Orang tuanya mengelola pondok, sementara dirinya juga pernah merasakan kehidupan sebagai santri.

"Kalau berangkat dari keluarga, orang tua memang di rumah juga ada pondok. Saya juga waktu sekolah memang mondok," ujarnya saat diwawancarai, Sabtu, 20 Juni 2026.

Perjalanan hidup Irfan sendiri tidak langsung mengarah ke dunia kepolisian.

Tahun 2006, ia mendaftar sebagai anggota Polri setelah diajak seorang teman. Saat itu, ia tengah membantu usaha bengkel milik kakaknya.

Awalnya ia tidak tertarik menjadi polisi. Namun ajakan sang teman mengubah jalan hidupnya.

Setelah gagal pada percobaan pertama karena faktor kesehatan, Irfan mempersiapkan diri lebih serius.

Setiap hari ia berlatih lari pagi dan siang sambil tetap membantu pekerjaan di bengkel. Upaya itu membuahkan hasil. Pada 2006, ia dinyatakan lulus dan memulai karier di Satbrimob Polda Banten.

Dua tahun kemudian, kemampuan bahasa Arabnya mulai menonjol. Pada 2008, ia mengikuti pendidikan bahasa Arab di Sekolah Bahasa Polri. Irfan berhasil meraih peringkat kedua dan memperoleh hadiah umrah dari Kedutaan Besar Arab Saudi.

Kemampuan bahasa Arab tersebut kemudian menjadi bekal penting dalam salah satu penugasan paling berkesan dalam hidupnya.

Pada Desember 2015, Irfan berangkat ke Sudan sebagai bagian dari Satgas United Nations Mission in Darfur (UNAMID), misi perdamaian PBB yang bertugas menjaga stabilitas keamanan di wilayah konflik Darfur.

Selama satu tahun dua bulan bertugas di El Fasher, Darfur, ia menjalankan patroli dan berbagai tugas pengamanan di daerah yang terdampak konflik.

Namun di sela-sela tugas tersebut, Irfan memilih mendekatkan diri kepada masyarakat setempat.

Dia rutin singgah ke masjid-masjid yang ditemuinya saat bertugas. Setelah salat, Irfan mengajak anak-anak dan warga sekitar membentuk halaqah kecil untuk belajar bersama.

"Yang diajarkan di sana tentang kecintaan terhadap negeri mereka sendiri, tentang perdamaian, persaudaraan. Kalau ngaji ya memperbaiki bacaan Al-Qur'an mereka," katanya.

Kegiatan itu tidak berlangsung di satu tempat saja. Hampir setiap masjid yang ia singgahi menjadi ruang belajar sederhana bagi warga setempat.

Tidak ada kelas resmi. Tidak ada pula jadwal khusus. Semuanya berjalan secara spontan, namun dilakukan secara rutin.

"Setiap masjid kita mampir. Ayo kita ngaji," kenangnya.

Dalam satu pertemuan biasanya hanya hadir lima hingga sepuluh peserta. Sebagian besar anak-anak, meski tidak jarang orang dewasa ikut bergabung untuk memperbaiki bacaan Al-Qur'an mereka.

Mengajar di Sudan memiliki tantangan tersendiri. Meski masyarakat setempat menggunakan bahasa Arab, Irfan tetap harus menyesuaikan diri dengan dialek amiyah yang digunakan warga Darfur dalam percakapan sehari-hari.

Beruntung, kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya mempermudah komunikasi dengan masyarakat.

Menurut Irfan, semangat belajar anak-anak Sudan sangat tinggi. Untuk menambah motivasi mereka, ia sering memberikan hadiah sederhana bagi anak-anak yang berhasil mencapai target hafalan tertentu.

"Kalau dalam satu minggu hafal juz 30, kami kasih hadiah," ujarnya.

Dari sekian banyak anak yang pernah belajar bersamanya, ada satu nama yang masih ia ingat hingga sekarang, yakni Sadik Hasband.

Hubungan keduanya tidak terputus setelah masa tugas berakhir. Hingga kini Irfan masih menjalin komunikasi dengan Sadik yang saat ini menempuh pendidikan di Palembang.

"Bahasa Indonesianya sekarang sudah bagus," katanya sambil tersenyum.

Pengalaman di Sudan juga memperlihatkan kepadanya bagaimana masyarakat hidup dalam berbagai keterbatasan.

Air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang sulit diperoleh. Untuk mendapatkan air, pengeboran harus dilakukan hingga kedalaman ratusan meter.

Pada malam hari, aktivitas masyarakat sangat terbatas karena situasi keamanan yang belum sepenuhnya kondusif.

Namun di tengah kondisi tersebut, Irfan melihat satu hal yang tetap tumbuh: semangat untuk belajar dan bertahan hidup.

Pengalaman di Sudan ternyata tidak menjadi akhir dari perjalanan pengabdiannya. Sepulang dari misi perdamaian, semangat berbagi yang ia bawa dari Darfur terus tumbuh.

Salah satu wujudnya adalah ketika ia ikut menginisiasi pembangunan sebuah pondok pesantren di Kota Serang.

Kisah itu bermula dari pertemuannya dengan seorang warga yang mendapat amanah sebidang tanah seluas sekitar 1.000 meter persegi dari orang tuanya.

Tanah tersebut tidak boleh diperjualbelikan dan hanya diperuntukkan bagi pembangunan pondok pesantren. Melihat peluang itu, Irfan memilih turun tangan.

"Ayo kita sama-sama bareng-bareng," kenangnya.

Dengan dana pribadi dan dukungan swadaya masyarakat, pembangunan pondok dilakukan secara bertahap.

Fasilitas yang tersedia saat itu sangat sederhana. Hanya terdapat lima kamar santri dan satu majelis untuk kegiatan mengaji.

Bahkan pada masa awal pembangunan, pesantren tersebut belum memiliki fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang memadai.

Meski demikian, semangat belajar para santri tidak pernah surut. Saat Irfan harus melanjutkan tugasnya, pondok sederhana itu telah dihuni sekitar 20 santri yang rutin belajar mengaji.

Hingga kini, pesantren tersebut masih berdiri dan tetap digunakan sebagai tempat belajar agama bagi masyarakat sekitar.

Selain aktif dalam kegiatan keagamaan, Irfan juga menorehkan prestasi di bidang olahraga.

Sejak 2017, ia menekuni olahraga dirgantara, khususnya paramotor dan paralayang.

Ia mengikuti berbagai kejuaraan, baik tingkat nasional maupun internasional, termasuk di India, Thailand, dan China.

Puncak prestasinya diraih pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI Aceh-Sumatera Utara 2024.

Dalam ajang tersebut, Irfan berhasil mempersembahkan dua medali emas dan satu medali perunggu untuk cabang olahraga paramotor.

Medali itu diraih dari nomor presisi atau ketepatan mendarat serta nomor ekonomik yang menguji kemampuan atlet mengendalikan penggunaan bahan bakar selama penerbangan.

Prestasi tersebut menambah daftar panjang pengalaman yang telah dijalani Irfan selama menjadi anggota Polri.

Selain menjadi pasukan perdamaian di Sudan dan atlet berprestasi, ia juga pernah dipercaya menjadi petugas haji Indonesia pada 2019 dan kembali ditunjuk oleh Kementerian Agama pada 2024.

Hingga kini, ia masih aktif memberikan bimbingan manasik kepada calon jemaah maupun calon petugas haji di berbagai daerah.

Namun dari berbagai capaian yang pernah diraih, Irfan tetap kembali pada prinsip yang sama yang diajarkan keluarganya sejak kecil.

Baginya, pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Kadang hadir dalam bentuk mengajarkan bacaan Al-Qur'an kepada anak-anak di negeri konflik.  Kadang hadir melalui pembangunan pondok sederhana bagi para santri.

Di kesempatan lain, pengabdian diwujudkan dengan mengharumkan nama daerah melalui olahraga atau membantu jemaah menunaikan ibadah haji. Berbeda medan, berbeda peran, tetapi tujuan yang ingin dicapai tetap sama.

"Yang penting saya bisa bermanfaat, mau buat siapa pun itu," tuturnya.

Tags:
pasukan perdamaian PBB di SudanPerserikatan Bangsa-BangsaDarfur Ipda Mohamad Irfan Fauzi

Veronica Prasetio

Reporter

Muhammad Dzikrillah Tauzirie

Editor