JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kenaikan harga mulai dirasakan masyarakat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Produk elektronik hingga perabot rumah tangga yang bergantung pada komponen impor disebut menjadi barang yang paling cepat mengalami penyesuaian harga di pasaran.
Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menilai kenaikan harga perabotan rumah tangga terjadi akibat tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku dan komponen impor. Kondisi tersebut membuat harga barang lebih cepat menyesuaikan ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.
“Kenapa perabotan rumah tangga, barang elektronik seperti kulkas, TV, rice cooker itu cepat naik? Karena transmisi dari pelemahan nilai tukar akan semakin cepat ketika barang-barangnya diimpor komponennya atau barang jadinya diimpor,” ujar Bhima kepada Poskota, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurut Bhima, hingga kini pemerintah dinilai belum memiliki solusi yang kuat untuk mengurangi ketergantungan impor, terutama pada sektor elektronik dan kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Konsumen Keluhkan Harga Perabotan di Pasar Jatinegara Naik
“Nah, inilah yang sebenarnya pemerintah belum punya solusi. Apalagi barang-barang elektronik komponen impornya cukup tinggi, enggak semuanya memenuhi TKDN,” katanya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat pelaku usaha dan penjual langsung menyesuaikan harga saat rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS. Bahkan, produk yang dijual melalui platform e-commerce juga ikut terdampak karena sebagian besar masih menggunakan komponen impor.
“Termasuk barang-barang yang dijual dari e-commerce, itu kan komponen impornya tinggi sekali. Jadi begitu ada pelemahan kurs, apalagi pelemahan kurs-nya cukup dalam, maka penjual akan langsung cepat melakukan penyesuaian harga kepada konsumen akhir,” ujarnya.
Kelas Menengah Dinilai Paling Terdampak
Bhima menilai kelompok masyarakat yang paling terdampak akibat kenaikan harga perabotan rumah tangga adalah kelas menengah, terutama mereka yang baru bekerja atau baru memiliki rumah sehingga masih membutuhkan banyak perlengkapan rumah tangga.
Baca Juga: Imbas Rupiah Melemah, Pedagang Perabot di Pasar Jatinegara Keluhkan Omzet Turun 50 Persen
“Yang dirugikan adalah kelompok menengah sebenarnya, yang baru punya rumah, baru mendapat pekerjaan. Merekalah yang kemungkinan besar akan terdampak dengan adanya tekanan pelemahan nilai tukar rupiah,” katanya.
Menurutnya, situasi ekonomi saat ini berpotensi memunculkan tekanan berlapis terhadap masyarakat. Pelemahan daya beli, perlambatan sektor perdagangan, hingga meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) dinilai dapat menciptakan siklus ekonomi yang semakin berat.
“Saya kira ini akan terus berlanjut. Perlambatan ekonomi sektor perdagangan juga akan diikuti oleh menurunnya pendapatan masyarakat karena banyak layoff, banyak PHK. Dan kalau banyak PHK begini, masyarakat juga akan melemah daya belinya. Jadi akan menciptakan lingkaran setan,” ujar Bhima.
Bhima menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk menjaga daya beli masyarakat agar tekanan ekonomi tidak semakin dalam. Salah satu langkah yang diusulkan adalah mengalihkan anggaran dari program yang dianggap kurang prioritas menjadi stimulus untuk masyarakat.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Padahal Modal Asing Deras Masuk ke Indonesia
“Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas rumah tangga? Salah satunya ya program-program yang enggak prioritas dibatalkan, sehingga ada ruang fiskal untuk melakukan subsidi terhadap penguatan daya beli masyarakat,” katanya.
Ia menekankan, fokus utama pemerintah saat ini seharusnya menjaga ketahanan ekonomi kelas menengah yang mulai tertekan akibat kenaikan harga dan ketidakpastian ekonomi.
“Sekarang kuncinya adalah bagaimana kelas menengah bisa bertahan,” ungkapnya. (cr-4)