KEMAYORAN, POSKOTA.CO.ID - Sebuah warung kelontong bernama Adi Jaya di Jalan Kodam Raya, Jakarta Pusat diduga dirusak oleh anggota Tentara Negara Indonesia (TNI) pada Minggu, 3 Mei 2026 sekitar pukul 15.00 WIB.
Diduga anggota TNI yang belum diketahui identitasnya tersebut tidak terima ketika diminta biaya administrasi pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).
Dalam video yang beredar di media sosial (medsos), terlihat beberapa orang terlibat cekcok di depan sebuah warung hingga memicu keributan.
Warga sekitar berusaha menenangkan situasi agar tidak semakin memanas, sementara sejumlah barang dagangan seperti galon dan kardus air mineral terlihat berhamburan di lokasi.
Baca Juga: 3 Tips Aman Menghindari Risiko Penipuan Saat Pembayaran Melalui Qris
Ketua RT 09/RW 07 Sumur Batu, Bambang, 51 tahun mengaku tidak menyaksikan langsung peristiwa tersebut karena sedang berada di luar kota. Ia baru mengetahui kejadian itu setelah mendapat laporan dari warga sekitar.
Namun demikian ia membenarkan kericuhan tersebut terjadi dipicu perihal pembayaran administrasi QRIS.
“Infonya seperti itu (karena biaya administrasi pembayaran QRIS). Kalau warga sini kalau beli rokok itu kena ada admin seribu, biasanya orang enggak permasalahkan," ujar Bambang saat ditemui Pos Kota di lokasi, Selasa, 5 Mei 2026.
Peristiwa bermula ketika pelaku yang mengenakan helm putih membeli sebungkus rokok dan hendak membayar menggunakan QRIS karena tidak membawa uang tunai.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan Anggota TNI AL di Stasiun Depok Baru
Namun, penjaga warung bernama Dedi menyampaikan bahwa transaksi QRIS dikenakan biaya tambahan sebesar Rp1.000 untuk menutup potongan dari sistem pembayaran.
Dari penjelasan Dedi, justru membuat pelaku emosi, dan sempat melontarkan kemarahan sambil mengaku sebagai anggota TNI.
Meski demikian, penjaga warung tetap bersikukuh menerapkan aturan biaya administrasi sesuai arahan pemilik. Pada saat kejadian warung dijaga oleh Dedi dan istrinya.
Dalam video yang beredar, pelaku sempat memukul istri Dedi yang ada dibalik etalase. Tidak terima, Dedi sempat mendorong pelaku pelaku menjauh dari istrinya.
Namun pelaku memukul Dedi dan menghantam etalase dan lemari pendingin menggunakan tabung gas LPG ukuran 3 kilogram.
Bambang membenarkan bahwa pelaku diduga merupakan anggota TNI. Ia mengaku telah didatangi pihak provos yang bersilaturahmi ke rumah korban.
Hanya saja, kata dia, saat ini korban dan pemilik warung belum dapat bertemu dengan pelaku karena masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
“Menurut informasi, iya (anggota TNI). Anggota datang ke rumah saya tuh cuma hanya pengen silaturahmi ke keluarga korban,” kata Bambang.
Saat ini warung yang dijaga korban masih dalam kondisi tertutup. Sejumlah pecahan kaca masih terlihat menumpuk, termasuk dari kulkas yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan minuman dingin.