BEKASI, POSKOTA.CO.ID - Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali diperingati, sejumlah catatan yang selalu terjadi masih banyak tidak menciptakan solusi terbaik. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi, Fendaby Surya Putra menyoroti dunia pendidikan saat ini.
Menurut anggota Komisi A DPRD Kota Bekasi tersebut mencatat masih adanya putra-putri yang terhenti jenjang pendidikannya. Dijelaskan olehnya prosentase didominasi oleh pendidikan lulusan dijenjang SMA.
Sementara itu, lanjutnya cukup banyak yang tidak meneruskan ke jenjang berikutnya yakni Perguruan Tinggi. Menurut Fendaby, beragam alasan menjadi faktor pendorong seperti tidak memiliki biaya.
Fendaby menekankan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia yang unggul dan profesional didasari oleh pendidikan yang dimiliki. Setiap insan, lanjutnya jika memiliki pendidikan yang baik akan memiliki dampak terbaik buat dirinya.
Baca Juga: Hardiknas, DPRD Kota Bekasi Soroti Ketimpangan yang Masih Terjadi
"Masih adanya anak-anak usia belajar yang putus sekolah. Saya mendesak pemerintah kota Bekasi turun dan bergerak membantu pendidikannya. Program 9 hingga 12 tahun belajar harus bisa dapat berjalan baik untuk anak di Kota Bekasi," ujarnya.
"Jangan biarkan mereka tidak bersekolah, berikan pendidikan dengan mengajaknya kembali masuk sekolah. Tentu kita berharan kelak dengan pendidikan yang dimiliki dapat membawa kehidupannya yang lebih baik," tandasnya.
Persoalan lainnya yang masih terjadi juga pada tenaga guru. Kekurangan pengajar untuk peserta didik juga masih menjadi persoalan yang terus kembali terjadi.
Anggota DPRD dari Fraksi PKS meminta Pemerintah Kota Bekasi untuk dapat lebih peka terkait hal tersebut. Fendaby menuturkan solusi menghadirkan dengan melibatkan mahasiswa ikut membantu menjadi tenaga pengajar hanya untuk sementara.
"Kita butuhkan kebijakan yang tidak hanya sementara. Tapi, kebijakan itu bisa dapat berdampak panjang kedepannya," kata Fendaby.
Ditambahkan olehnya, kekurangan guru diakibatkan karena didorong oleh profesi sebagai guru tidak dapat menjanjikan. Diera ini, menurut Fendaby generasi saat ini tidak lagi melirik profesi guru untuk digeluti.
"Ini sama seperti petani atau nelayan. Generasi saat ini banyak yang tidak melirik berprofesi sebagai petani dan nelayan. Kini, profesi guru juga perlahan tidak dilirik lagi," jelasnya.
Kita telah banyak ketahui, lanjutnya dunia guru saat ini ada yang berpenghasilan rendah. Sementara seorang guru harus bisa dapat bertahan hidup ditengah ekonomi saat ini.
Baca Juga: Tanpa Upacara, SMK PGRI 24 Manfaatkan Momen Hardiknas untuk Membereskan Kelas
"Tiap tahun selalu ada unjuk rasa dari para tenaga pengajar. Permintaannya sederhana yakni mereka bisa dapat hidup dengan laik. Hidup yang bisa dapat memenuhi kebutuhan hidupnya," ujarnya.
Permasalahan kesejahteraan guru menjadi permasalahan nasional. Namun, Fendaby mengharapkan Pemerintah Kota Bekasi bisa memberikan contoh terbaik dan solusinya dan dapat dicontoh daerah lainnya.
Selain ketersedian guru, Fendaby juga menyoroti sekolah-sekolah yang sanitasinya kurang baik. Ditekankan olehnya sekolah yang baik berawal dari sanitasinya dan sehingga kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.
Pria lulusan Nanyang Technology University Singapura tahun 2004 tersebut memgungkapkan mutu kualitas pendidikan agar bisa menjadi lebih baik. Dipaparkan olehnya kualitas pendidikan diawali dari tenaga guru yang memiliki jenjang pendidikan terbaik hingga fasilitas-fasilitas yang dimiliki sekolah.
"Jika tenaga pengajar memiliki pendidikan setingkat S2 hingga S3 untuk di SMP atau SMA itu lebih bagus. Ditambah ditunjang dengan fasiltas sekolah yang dimiliki seperti diantaranya laboratorium," ujarnya.
Masalah serius lainnya dan masih kerap terjadi yakni bullying, Fendaby meminta Pemerintah Kota Bekasi terus sosialisasi agar selalu diingat para pelajar.
"Untuk menciptakan Sumber Daya Manusia yang unggul itu harus dilakukan. Mulai dari semua anak usia belajar yang harus belajar. Mutu guru dan sekolah yang terbaik serta ajak pelajar agar tidak melakukan bullying," katanya.