POSKOTA.CO.ID - Meski kalender klimatologis menunjukkan Indonesia mulai memasuki musim kemarau, kenyataannya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih mengguyur sejumlah wilayah. Fenomena ini kerap menimbulkan tanda tanya di masyarakat: apakah musim kemarau benar-benar sudah tiba?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kemarau bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya. Dalam penjelasannya, BMKG menyebut bahwa hujan tetap bisa terjadi, hanya saja intensitasnya jauh lebih rendah dibanding musim hujan.
“Musim kemarau bukan berarti tidak akan ada hujan sama sekali. Batas kemarau adalah saat curah hujan kurang dari 50 mm per 10 hari (satu dasarian) dan berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut,” tulis BMKG dalam pernyataan resminya, Selasa, 21 April 2026.
Penjelasan ini menjadi penting, terutama di tengah persepsi umum yang kerap menyamakan kemarau dengan kondisi tanpa hujan sama sekali. Faktanya, dalam dinamika iklim tropis seperti Indonesia, hujan ringan hingga sedang masih mungkin terjadi.
Baca Juga: Top! Negara-Negara Paling Agresif Tanam Modal di Indonesia Awal 2026
Baru 7,8 Persen Wilayah Masuk Kemarau
Jika ditarik lebih jauh, alasan utama masih turunnya hujan adalah karena sebagian besar wilayah Indonesia memang belum memasuki musim kemarau. Berdasarkan data terbaru BMKG, hingga awal April 2026, baru sekitar 7,8 persen wilayah yang resmi masuk musim kemarau.
Artinya, lebih dari 90 persen wilayah Indonesia masih berada dalam fase musim hujan atau masa peralihan (pancaroba). BMKG pun menegaskan bahwa April merupakan periode transisi yang ditandai dengan cuaca yang cenderung tidak stabil.
“April ini masih fase peralihan. Faktanya, awal April ini baru 7,8 persen wilayah Indonesia yang sudah masuk musim kemarau. Selebihnya masih musim hujan,” jelas BMKG.
Wilayah yang sudah memasuki kemarau tersebut tersebar di beberapa zona musim, termasuk Bali, Nusa Tenggara, sebagian Jawa, hingga sebagian kecil Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Pergerakan Monsun Australia Picu Kemarau Bertahap
Secara klimatologis, musim kemarau di Indonesia dipengaruhi oleh angin monsun Australia yang bergerak dari selatan ke utara. Pola pergerakan ini menyebabkan kemarau tidak datang secara serentak, melainkan bertahap dari wilayah selatan ke utara.
Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjadi daerah yang lebih dulu merasakan kemarau, umumnya pada April hingga Mei.
Sementara itu, wilayah Sumatra baru diperkirakan memasuki kemarau pada Juni, disusul sebagian Kalimantan dan Sulawesi pada Juli.
Pola bertahap ini membuat kondisi cuaca di Indonesia sangat beragam dalam satu waktu. Di satu daerah bisa mulai kering, sementara daerah lain masih mengalami hujan intens.
Baca Juga: Terobos Palang Pintu, Guru TK Tewas Tertabrak Kereta di Cempaka Putih
Isu Kemarau Terparah 30 Tahun, Ini Klarifikasinya
Di tengah kondisi cuaca yang belum sepenuhnya kering, muncul pula isu bahwa musim kemarau 2026 akan menjadi yang terparah dalam 30 tahun terakhir. BMKG meluruskan informasi tersebut.
Menurut BMKG, kemarau tahun ini memang diprediksi cenderung lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis normal. Namun, hal itu tidak serta-merta menjadikannya sebagai kemarau paling ekstrem dalam tiga dekade terakhir.
Penegasan ini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam informasi yang berpotensi menyesatkan, sekaligus tetap waspada terhadap potensi dampak kekeringan yang mungkin terjadi di beberapa wilayah.