POSKOTA.CO.ID - Kasus viral yang melibatkan seorang guru di Purwakarta akhirnya mendapat titik terang. Bu Atun, guru PPKn di salah satu SMA negeri, memilih jalan damai setelah dirinya menjadi bahan olok-olok murid di dalam kelas.
Peristiwa tersebut sempat menyita perhatian publik karena sikap tidak sopan sejumlah siswa yang mengacungkan jari tengah kepada gurunya. Namun, alih-alih memperpanjang masalah, Bu Atun justru mengambil langkah bijak dengan membuka pintu maaf.
Bu Atun menegaskan bahwa dirinya tidak ingin membawa kasus ini ke ranah hukum. Ia lebih memilih untuk membina murid-muridnya agar menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Menurutnya, peran guru tidak hanya sebatas memberikan sanksi, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak siswa. Ia mengungkapkan bahwa para murid yang terlibat telah menyadari kesalahan dan meminta maaf secara langsung.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” kata Bu Atun dikutip Selasa 21 April 2026.
Tegas Tidak Akan Melapor
Dengan penuh keyakinan, Bu Atun memastikan tidak akan melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwenang. Baginya, proses pendidikan harus mengedepankan pembinaan, bukan sekadar hukuman.
“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat. Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” terangnya.
Insiden yang terjadi di ruang kelas IPS pada Kamis 16 April 2026, itu berlangsung setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Bu Atun mengaku tidak menyangka momen tersebut direkam hingga akhirnya viral di media sosial.
Baca Juga: Tawuran Remaja di Purwakarta Berawal dari Medsos, 1 Korban Terluka, 2 Pelaku Ditangkap
Sorotan Gubernur Jawa Barat
Kasus ini juga menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menilai bahwa pendekatan pembinaan lebih efektif dibandingkan hukuman keras seperti skorsing.
Dedi Mulyadi bahkan mengusulkan agar para siswa diberikan sanksi yang bersifat edukatif, seperti kegiatan bersih-bersih selama beberapa bulan. Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu membentuk karakter dan tanggung jawab siswa.
Dengan sikap penuh maaf dari Bu Atun, kasus ini diharapkan menjadi pelajaran penting bagi dunia pendidikan, khususnya dalam membangun hubungan yang lebih baik antara guru dan murid.
