Tak hanya berdampak pada ekosistem, ikan sapu-sapu juga berpotensi merusak infrastruktur. Hal ini karena kebiasaan ikan tersebut membuat sarang dengan menggerogoti dinding saluran air.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat mempercepat kerusakan pada sistem drainase dan infrastruktur perairan di Jakarta.
Dalam pelaksanaan awal, Pemprov DKI Jakarta menargetkan penangkapan ikan sapu-sapu sebanyak 150 kilogram. Namun, realisasi di lapangan melampaui target tersebut.
Pada tahap awal saja, hasil tangkapan telah mencapai lebih dari 60 kilogram, dan diperkirakan totalnya menembus angka 200 kilogram.
“Kami perkirakan awalnya sekitar 150 kilogram, tetapi hasil sementara sudah menunjukkan lebih dari 200 kilogram,” ungkap Pramono.
Seluruh ikan hasil tangkapan rencananya akan dimusnahkan dengan cara dikubur. Langkah ini dilakukan untuk mencegah potensi dampak negatif, baik terhadap kesehatan maupun lingkungan.
Pramono juga mengaku sempat mengamati langsung karakter ikan tersebut. Menurutnya, ikan sapu-sapu memiliki perilaku unik, namun tetap tergolong berbahaya sebagai spesies invasif yang agresif di perairan.
"Sapu-sapunya akan dikubur. Karena ikan ini sebenarnya tadi saya mengalami sendiri begitu dipegang itu dia udah pura-pura kayak lemas gitu kayak ini padahal dia adalah predator utama bukan predator ya yang invasif yang sangat aktif sekali di sungai," ungkapnya. (cr-4).
