Padahal, menurutnya, tantangan saat ini justru membutuhkan kekuatan sosial sebagai alat perjuangan. Ia menilai, bentuk penjajahan modern lebih efektif dilawan melalui gerakan sosial yang melibatkan partisipasi masyarakat luas.
“Tapi itu sangat dibutuhkan karena bentuk penjajahan hari ini justru memerlukan kekuatan sosial untuk melawan, tidak dalam bentuk senjata tetapi dalam bentuk perjuangan sosial,” jelas Pontjo.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa FKPPI memiliki kekuatan besar yang tersebar di seluruh Indonesia.
Organisasi tersebut, dikatakan Pontjo, hadir di setiap kabupaten/kota bahkan hingga tingkat desa, karena hampir di setiap wilayah terdapat anak dari anggota TNI maupun Polri.
“FKPPI ada di seluruh Kabupaten/Kota, tidak ada satu pun Kabupaten/Kota yang tidak ada FKPPI-nya. Malah anggotanya tidak ada satu desa pun di Indonesia yang tidak ada anak TNI atau anak Polri, pasti ada,” kata dia.
Dengan jaringan yang luas tersebut, Pontjo berharap semangat perjuangan yang digaungkan tidak hanya berhenti di tingkat pusat, tetapi dapat menyebar ke seluruh daerah sebagaimana strategi perjuangan yang pernah dilakukan oleh Sudirman.
“Sudirman berperang tanpa modal senjata tetapi partisipasi di seluruh daerah, itulah yang membuat kenyataan. Kita berharap acara hari ini adalah menggaungkan niat itu,” ujarnya. (cr-4).
