“Ini adalah ekspresi takzim anak kepada orang tua, yang muda kepada yang lebih tua, hingga pejabat kepada atasannya. Ini bagian dari budaya Betawi,” ucap Foke.
Foke menegaskan bahwa praktik tersebut tidak boleh disalahartikan.
“Ini bukan gratifikasi. Ini budayanya orang Betawi. Mudah-mudahan para pejabat tidak perlu sampai dipanggil KPK untuk mempertanggungjawabkan serah-serahan ini,” ujarnya.
Baca Juga: Festival Lebaran Betawi di Monas Disambut Meriah Warga
Namun di balik kemeriahan, Foke mengingatkan bahwa penyelenggaraan Lebaran Betawi tahun ini juga dilandasi rasa empati terhadap berbagai kondisi global dan nasional.
Mulai dari bencana alam yang masih menyisakan duka bagi sebagian masyarakat hingga konflik di Timur Tengah yang berdampak luas. Oleh karena itu, acara tahun ini diselenggarakan secara lebih sederhana.
“Kami mohon kepada seluruh hadirin untuk memaklumi penyederhanaan ini sebagai bentuk keprihatinan kami,” ucap Foke.
Lebih lanjut, Foke mengajak masyarakat menjadikan momentum Lebaran Betawi sebagai ajang mempererat persaudaraan dan menjaga persatuan.
Ia mengutip firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 103 sebagai pengingat pentingnya kebersamaan.
“Berpeganglah kalian erat di dalam tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai,” tuturnya.
Kendati demikian, ia berharap, agar seluruh warga Jakarta dapat terus berkontribusi dalam menjaga keharmonisan kota serta merawat budaya lokal di tengah ambisi menjadikan Jakarta sebagai kota global.
