POSKOTA.CO.ID - Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan Jumat pagi, 10 April 2026. Setelah mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut, pasar kini mulai menunjukkan tanda jeda sebuah pola yang kerap muncul ketika pelaku pasar memilih mengunci keuntungan.
Pada pukul 07:16 WIB, harga emas di pasar spot tercatat di level US$ 4.752,6 per troy ons, melemah 0,23% dibandingkan penutupan sebelumnya. Padahal sehari sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh US$ 4.763,7 per troy ons level tertinggi sejak awal April.
Kenaikan tersebut bukan tanpa alasan. Selama tiga hari terakhir, harga emas telah menguat sekitar 2,42%. Dalam kondisi seperti ini, aksi ambil untung atau profit taking menjadi hal yang lumrah. “Ketika harga sudah naik cukup signifikan dalam waktu singkat, sebagian investor akan memilih merealisasikan keuntungan,” begitu pola umum yang terjadi di pasar komoditas.
Baca Juga: Aturan Baru Uang Makan PNS 2026 Resmi Berlaku, Ini Daftar Pegawai yang Tak Kebagian
Sentimen Global: Harapan Damai dan Dampaknya ke Emas
Di balik pergerakan harga emas, ada narasi global yang ikut memengaruhi. Salah satunya adalah meningkatnya harapan terhadap meredanya konflik di Timur Tengah, khususnya perang di Iran yang telah berlangsung selama enam minggu.
Akhir pekan ini, perhatian pasar tertuju pada agenda negosiasi di Islamabad, Pakistan. Delegasi Amerika Serikat akan dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance, sementara Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan optimismenya bahwa kesepakatan damai bisa tercapai.
Harapan tersebut langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak mentah dunia, baik jenis brent maupun light sweet, tercatat turun lebih dari 12% dalam sepekan terakhir. Penurunan harga energi ini memberi sinyal positif terhadap inflasi global.
Ketika tekanan inflasi mereda, bank sentral memiliki ruang lebih luas untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dalam konteks ini, emas yang dikenal sebagai aset tanpa imbal hasil justru menjadi lebih menarik ketika suku bunga berpotensi turun. Dengan kata lain, arah kebijakan suku bunga global tetap menjadi faktor kunci bagi pergerakan emas ke depan.
Analisis Teknikal: Bullish, Tapi Mulai Kehabisan Tenaga?
Secara teknikal, tren harga emas masih berada dalam fase bullish, meskipun mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 51, sedikit di atas ambang netral 50. Ini menandakan momentum naik masih ada, tetapi tidak terlalu kuat.
Di sisi lain, Stochastic RSI justru berada di level 99 mengindikasikan kondisi jenuh beli (overbought). Situasi ini sering kali menjadi sinyal bahwa koreksi jangka pendek bisa terjadi.
Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar akan mencermati beberapa level penting. Support terdekat berada di US$ 4.720 per troy ons, yang bertepatan dengan Moving Average (MA) 5. Jika level ini ditembus, maka MA-10 di kisaran US$ 4.699 bisa menjadi target berikutnya. Dalam skenario yang lebih dalam, support kuat berada di US$ 4.605.
Sebaliknya, jika harga kembali menguat, level US$ 4.754 akan menjadi titik uji awal sebagai pivot point. Penembusan di atas level ini berpotensi membuka jalan menuju rentang US$ 4.773 hingga US$ 4.834. Bahkan, dalam skenario paling optimistis, harga emas bisa mengarah ke US$ 4.918 per troy ons.
Baca Juga: Motor Listrik Polytron Fox 350 Lebih Irit? Ini Rincian Biaya dan Keunggulannya
Menanti Arah Baru Pasar
Pergerakan emas saat ini mencerminkan fase transisi di mana pasar sedang menimbang antara realisasi keuntungan jangka pendek dan prospek jangka menengah yang masih dipengaruhi dinamika global.
Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian menjadi kunci. Investor tidak hanya membaca grafik, tetapi juga mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi global. Sebab, di pasar emas, sentimen sering kali bergerak lebih cepat daripada angka.