CIMAHI, POSKOTA.CO.ID - Kenaikan harga kedelai makin mencekik pelaku usaha kecil. Dampaknya, produsen tempe di daerah mulai kelimpungan hingga harus mengurangi produksi.
Seperti yang dialami Kusnanto 67 tahun, produsen tempe di Kota Cimahi. Ia mengaku terpaksa memangkas produksi hingga 30 persen akibat lonjakan harga bahan baku.
"Pengurangan produksi kurang lebih 30 persen ditambah daya beli di pasar ikut turun," ujarnya Kusnanto, Rabu 8 April 2026.
Baca Juga: BPK Turun ke Bandung Barat, PLN UP3 Cimahi Optimalkan Listrik Desa hingga Pelosok
Harga kedelai yang biasanya berada di kisaran Rp8.000-Rp9.000 per kilogram, kini melonjak tajam menjadi Rp10.800 per kilogram.
Kondisi ini membuat biaya produksi membengkak, sementara penjualan justru melemah.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai dipicu oleh faktor global, seperti pengaruh nilai tukar dolar dan terganggunya jalur distribusi impor.
"Katanya karena faktor dolar, sama kendala di Selat Hormuz yang ditutup Iran," ucapnya.
Meski terhimpit kondisi, Kusnanto tetap bertahan berproduksi demi menjaga pasokan di pasar. Baginya, ketersediaan kedelai lebih penting meski harus dibeli dengan harga mahal.
"Yang penting barang ada. Daripada murah tapi tidak ada, malah repot. Mahal tidak apa-apa, yang penting tetap bisa produksi," ucapnya.
Ia pun berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai. Bahkan, ia mendorong adanya perbaikan tata kelola hingga upaya swasembada agar harga lebih terjangkau.
Baca Juga: Berkedok Yayasan Outsourcing, Pasutri di Cikande Tipu Belasan Pencari Kerja
"Harapannya harga bisa normal lagi. Tata kelola diperbaiki, syukur-syukur bisa swasembada kedelai," tuturnya. (gat)