POSKOTA.CO.ID - Kenaikan harga avtur di Indonesia kembali menjadi perhatian di tengah tekanan pasar energi global yang belum mereda. Penyesuaian harga ini terjadi seiring meningkatnya biaya produksi dan distribusi akibat lonjakan harga minyak dunia.
Di sisi lain, pemerintah menilai bahwa kondisi tersebut masih dalam batas wajar jika dibandingkan dengan negara lain. Indonesia disebut tetap mampu menjaga daya saing harga avtur di kawasan, meski tekanan eksternal terus meningkat.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong ketidakstabilan harga energi global. Konflik yang berkepanjangan membuat pasokan minyak terganggu dan berdampak langsung pada berbagai sektor, termasuk penerbangan.
Dalam situasi tersebut, pemerintah berupaya memastikan pasokan avtur tetap terjaga sekaligus menjaga harga agar tidak melonjak terlalu tinggi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas industri penerbangan dan perekonomian nasional.
Harga Avtur RI Masih Lebih Murah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa harga avtur yang dipasarkan oleh PT Pertamina (Persero) masih lebih kompetitif dibandingkan negara lain di kawasan.
"Memang ada kenaikan dari Pertamina, tetapi kenaikan itu dibandingkan dengan harga avtur di negara lain, khususnya tetangga, kita masih jauh lebih kompetitif," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin 6 Maret 2026.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta per 1 April 2026 mencapai Rp23.551 per liter. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai Rp29.518 per liter dan Filipina sebesar Rp25.326 per liter.
Dipicu Harga Minyak Dunia dan Geopolitik
Bahlil menjelaskabn bahwa kenaikan harga avtur dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurutnya, harga avtur mengikuti mekanisme pasar global sehingga penyesuaian harga tidak dapat dihindari. Selain untuk kebutuhan domestik, avtur Indonesia juga melayani pengisian bahan bakar bagi pesawat internasional yang masuk ke Tanah Air.
"Harga avtur memang ini kan adalah harga pasar dan otomatis karena ini juga melayani pengisian avtur global, pesawat-pesawat dari luar negeri yang masuk, maka mekanisme yang terjadi adalah mekanisme pasar," kata Bahlil.
Baca Juga: Bahlil Lahadalia Pastikan Stok BBM Indonesia Aman di Tengah Konflik Iran-Israel
Ancaman Krisis Energi Global
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol sebelumnya memperingatkan potensi krisis bahan bakar avtur dan diesel akibat konflik di Timur Tengah.
Ia menyebutkan bahwa dampak konflik tersebut telah mulai terasa di Asia dan diperkirakan akan meluas ke Eropa pada April atau menjelang Mei 2026. Volume pasokan minyak yang hilang bahkan diperkirakan meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi ini dinilai berpotensi memicu inflasi serta menekan pertumbuhan ekonomi global, khususnya di negara berkembang yang memiliki keterbatasan cadangan devisa.
Maskapai Waspadai Kelangkaan Avtur
Peringatan serupa juga datang dari CEO grup maskapai Lufthansa, Carsten Spohr. Ia mengungkapkan adanya risiko kelangkaan bahan bakar jet, terutama di luar kawasan Eropa.
Gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah disebut menjadi faktor utama yang dapat memperburuk ketersediaan avtur di berbagai wilayah dunia.
Situasi ini membuat industri penerbangan global perlu bersiap menghadapi potensi tekanan biaya operasional yang lebih tinggi dalam waktu dekat.