POSKOTA.CO.ID - Ancaman krisis energi global mulai menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia seiring meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.
Situasi geopolitik yang belum stabil dinilai berpotensi memberi dampak langsung terhadap perekonomian nasional, terutama pada sektor energi.
Pemerintah mengambil langkah cepat dengan menginstruksikan upaya strategis guna menjaga kestabilan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Langkah ini menjadi bagian dari antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan energi tetap aman sekaligus menekan risiko kenaikan harga yang dapat memicu efek domino pada berbagai sektor ekonomi.
Menjaga Stabilitas Harga BBM Nasional
Upaya pemerintah tidak hanya sebatas menjamin pasokan energi, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi nasional secara keseluruhan. Kenaikan harga BBM dinilai dapat berdampak luas, mulai dari meningkatnya biaya transportasi hingga melonjaknya harga kebutuhan pokok.
Untuk itu, Presiden menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, untuk segera mencari alternatif sumber minyak mentah di luar wilayah konflik.
“Kita tidak bisa bergantung pada satu atau dua sumber saja. Dalam situasi seperti sekarang, fleksibilitas menjadi kunci,” ujar Bahlil.
Langkah ini diambil sebagai bentuk mitigasi dini agar gejolak global tidak langsung membebani masyarakat.
Baca Juga: Pemerintah Terapkan WFH Demi Hemat BBM Usai Lebaran 2026, Ini Aturan dan Skemanya
Selat Hormuz Jadi Titik Rawan Distribusi Energi
Salah satu kekhawatiran utama pemerintah terletak pada kondisi Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak global. Ketidakstabilan di kawasan tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap kelancaran rantai pasok energi dunia.
