Momen indah berkumpul bersama keluarga di Hari Raya. Selamat Idul Fitri! Mohon maaf lahir dan batin." (Sumber: Pinterest)

RAMADHAN

Penentuan Hilal Lebaran 2026: Ini Prediksi Idul Fitri Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Kamis 19 Mar 2026, 14:27 WIB

POSKOTA.CO.ID - Penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah pada tahun 2026 kembali menjadi perhatian utama umat Islam di Indonesia. Momen ini selalu dinantikan karena menjadi penentu kapan Hari Raya Idul Fitri akan dirayakan secara resmi.

Perbedaan metode dalam menentukan hilal membuat potensi perbedaan tanggal Lebaran kembali muncul. Sejumlah organisasi Islam dan pemerintah pun telah mengeluarkan prediksi masing-masing terkait jatuhnya 1 Syawal 1447 H.

Pemerintah melalui Kementerian Agama dijadwalkan menggelar Sidang Isbat pada Kamis, 19 Maret 2026. Forum ini akan menjadi penentu resmi tanggal Idul Fitri setelah mempertimbangkan hasil perhitungan astronomi dan pengamatan langsung hilal di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Zakat Online Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap dan Keuntungannya

Prediksi Lebaran 2026

Perkiraan Lebaran 2026 menunjukkan adanya kemungkinan perbedaan di antara organisasi Islam di Indonesia. Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab dengan kriteria wujudul hilal, yakni kondisi ketika ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam dan bulan masih berada di atas ufuk saat matahari terbenam.

Di sisi lain, pemerintah bersama sejumlah lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Lebaran akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Prediksi ini mengacu pada analisis posisi hilal yang dinilai belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan.

Nahdlatul Ulama (NU) juga diperkirakan akan mengikuti keputusan pemerintah yang menggunakan pendekatan serupa, yakni mengacu pada standar imkanur rukyat.

Baca Juga: Mandi Sunnah Idul Fitri Dilakukan Kapan? Ini Waktu yang Dianjurkan, Bacaan Niat, dan Tata Caranya

Hilal Versi Pemerintah

Pemerintah Indonesia menggunakan kriteria Imkanur Rukyat yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS, yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria ini telah diperbarui dan mulai diterapkan sejak tahun 2022.

Dalam aturan tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat. Standar ini dibuat untuk memastikan bahwa hilal benar-benar mungkin terlihat secara ilmiah.

Berdasarkan data astronomi pada 19 Maret 2026, posisi hilal di Indonesia diperkirakan belum sepenuhnya memenuhi kriteria tersebut. Ketinggian hilal bervariasi, mulai dari sekitar 0,91 derajat hingga 3,13 derajat, sementara elongasi berada di kisaran 4,54 hingga 6,1 derajat.

Metode Rukyatul Hilal yang Digunakan di Indonesia

Rukyatul hilal merupakan metode pengamatan langsung terhadap bulan sabit pertama setelah terjadi konjungsi. Cara ini telah digunakan sejak masa Nabi Muhammad SAW dan masih menjadi bagian penting dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.

Pengamatan dilakukan saat matahari terbenam pada hari ke-29 bulan berjalan. Jika hilal terlihat, maka malam itu sudah memasuki bulan baru. Namun jika tidak terlihat, maka bulan digenapkan menjadi 30 hari.

Hasil pengamatan dari berbagai titik di Indonesia akan dikumpulkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat.

Peran Metode Hisab dalam Penentuan Awal Bulan

Selain rukyat, metode hisab juga memiliki peran penting dalam menentukan awal bulan Hijriah. Hisab merupakan perhitungan astronomi untuk mengetahui posisi bulan secara matematis.

Metode ini digunakan untuk memprediksi waktu ijtimak, tinggi hilal, hingga peluang visibilitasnya. Di Indonesia, hisab berfungsi sebagai panduan awal sebelum dilakukan verifikasi melalui rukyatul hilal.

Pendekatan yang digunakan pemerintah menggabungkan kedua metode tersebut, sehingga hasilnya diharapkan lebih akurat dan dapat diterima oleh berbagai pihak.

Baca Juga: Bolehkah Awal Puasa Ikut Muhammadiyah, Tapi Lebaran Mengikuti NU? Ini Penjelasan Fikihnya

Sidang Isbat Jadi Penentu Akhir

Sidang Isbat menjadi tahapan akhir dalam penentuan 1 Syawal 1447 H di Indonesia. Sidang ini dipimpin oleh Menteri Agama dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi Islam, ahli astronomi, hingga instansi terkait.

Prosesnya diawali dengan pemaparan data hisab, dilanjutkan dengan verifikasi hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah, dan diakhiri dengan musyawarah untuk menetapkan keputusan.

Hasil Sidang Isbat kemudian diumumkan kepada masyarakat sebagai acuan resmi dalam merayakan Idul Fitri. Meski terdapat potensi perbedaan, keputusan ini diharapkan dapat memberikan kepastian bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah dan merayakan hari kemenangan.

Tags:
Hilal Versi PemerintahLebaran 2026Prediksi Lebaran 2026perbedaan tanggal Lebarankapan Hari Raya Idul FitriPenentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah

Aldi Harlanda Irawan

Reporter

Aldi Harlanda Irawan

Editor