JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat puluhan peristiwa tanah longsor terjadi di wilayah Ibu Kota dalam lima tahun terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa potensi bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Jakarta.
Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan menyampaikan bahwa total kejadian longsor selama periode 2020 hingga 2025 mencapai 46 kasus.
“Total ada 46 kejadian longsor selama periode 2020 sampai 2025,” ujar Yohan melalui pesan singkat pada Senin, 16 Maret 2026.
Tren Kejadian Longsor di Jakarta 2020–2025
Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, kejadian longsor paling banyak terjadi di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Baca Juga: Warga Kebayoran Lama Khawatir Longsor Susulan, Berharap Turap Segera Dibangun
Pada tahun 2020 tercatat sembilan kejadian longsor, yang mayoritas terjadi di dua wilayah tersebut. Kemudian pada 2021 jumlah kejadian menurun menjadi empat kasus.
Memasuki 2022, jumlah longsor tercatat dua kejadian. Namun angka tersebut kembali meningkat pada 2023 dengan sembilan kejadian.
Lonjakan signifikan terjadi pada 2024 dengan total 14 peristiwa longsor. Sementara pada 2025, BPBD mencatat delapan kejadian.
Sementara itu, pada awal 2026 sejumlah kejadian longsor juga dilaporkan terjadi, di antaranya di kawasan Tebet dan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada awal Maret.
Baca Juga: Warga Jaksel-Jaktim Diimbau Waspadai Potensi Bencana Longsor pada Maret 2026
Potensi Longsor Masih Mengancam Jelang Lebaran
Yohan menjelaskan bahwa menjelang periode Lebaran, potensi bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor masih mengancam sejumlah wilayah di DKI Jakarta.
Menurutnya, BPBD telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi longsor di beberapa titik yang memiliki karakteristik tanah labil, terutama yang berada di bantaran sungai maupun kawasan lereng.
“BPBD DKI Jakarta telah mengeluarkan peringatan dini terkait risiko tanah longsor di sejumlah titik dengan kontur tanah labil serta berada di bantaran sungai atau lereng,” jelasnya.
Wilayah Jakarta yang Berpotensi Terjadi Longsor
Berdasarkan pemetaan BPBD, sejumlah wilayah di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur masuk dalam kategori rawan longsor.
Baca Juga: Potensi Longsor Intai Jakarta Timur, Camat Pasar Rebo: Belum Ada Wilayah Rawan
Di Jakarta Selatan, daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Kecamatan Cilandak, Jagakarsa, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, Mampang Prapatan, Pasar Minggu, dan Pesanggrahan.
Sementara di Jakarta Timur, potensi longsor terdapat di Kecamatan Pasar Rebo dan Kramat Jati.
Yohan mengatakan BPBD terus melakukan pemetaan secara intensif pada wilayah dengan kondisi tanah yang berisiko mengalami pergerakan.
“Pemetaan difokuskan pada area dengan kontur tanah labil, terutama di bantaran sungai, lereng, serta kawasan permukiman padat yang berpotensi terjadi pergerakan tanah,” kata Yohan.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Kembali Temukan Jasad Korban Longsor TPST Bantargebang, 1 Masih dalam Pencarian
BPBD Tingkatkan Pemantauan Cuaca dan Koordinasi
Selain melakukan pemetaan wilayah rawan longsor, BPBD DKI Jakarta juga meningkatkan pemantauan kondisi cuaca dan curah hujan.
Pemantauan tersebut dilakukan dengan mengacu pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Informasi tersebut menjadi dasar bagi BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel serta menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat.
“Informasi prakiraan cuaca digunakan sebagai acuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan petugas serta memberikan peringatan dini kepada warga,” ujar Yohan.
BPBD juga melakukan koordinasi lintas sektor guna memperkuat patroli dan kesiapsiagaan personel di wilayah rawan bencana.
Masyarakat pun diimbau segera melaporkan kondisi darurat atau potensi bahaya melalui layanan darurat Jakarta Siaga 112 agar petugas dapat segera melakukan pengecekan dan penanganan di lapangan.