Langkah tersebut dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST. Ia menekankan pentingnya implementasi Extended Producer Responsibility (EPR) secara lebih tegas.
Lebih lanjut, dalam jangka pendek, ia juga mendorong optimalisasi fasilitas pengolahan yang telah tersedia, termasuk fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif seperti RDF plant. Teknologi ini dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah yang harus ditimbun di tempat pemrosesan akhir.
Sementara dalam jangka menengah, pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern dinilai perlu dipercepat agar kota besar seperti Jakarta tidak lagi terlalu bergantung pada sistem penimbunan.
Baca Juga: Polemik Rumah Duka dan Krematorium Kalideres: Warga Menolak, Pemkot Jakbar Izin PBG Sesuai Aturan
Ia menambahkan bahwa pengembangan teknologi pengolahan sampah seperti Waste-to-Energy (WtE) perlu dipandang sebagai bagian dari solusi, namun bukan satu-satunya jalan keluar.
“Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas lingkungan, kita dapat membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih aman, lebih berkelanjutan, bernilai ekonomi dan berdampak luas,” ujar Fahira. (man)
