POSKOTA.CO.ID - Dunia internasional kini mengarahkan perhatian penuh pada sosok Mojtaba Khamenei.
Putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada Senin, 9 Maret 2026, menyusul kematian ayahnya akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) dalam proses cepat di tengah eskalasi konflik regional yang semakin memanas.
Meski selama puluhan tahun lebih suka beroperasi di balik layar, Mojtaba bukanlah figur asing dalam jaringan kekuasaan Teheran.
Baca Juga: Trump Murka Inggris-Spanyol Tolak Bantu AS Serang Iran
Ia kerap disebut sebagai arsitek utama yang mengendalikan berbagai simpul kekuatan dari pusat ibu kota Iran.
Latar Belakang Dibentuk oleh Revolusi dan Perang

Lahir di Mashhad pada 1969, Mojtaba tumbuh di era menjelang Revolusi Islam 1979.
Masa kecilnya diwarnai gejolak politik, termasuk menyaksikan ayahnya menjadi korban kekerasan polisi rahasia SAVAK di bawah rezim Shah. Pengalaman ini semakin memperkuat sikap anti-Barat yang kuat.
Pada usia muda, ia terlibat langsung dalam Perang Iran-Irak (1980-1988) sebagai anggota Batalion Habib ibn Mazahir di bawah Garda Revolusi Islam (IRGC). Pengalaman militer ini menjadi fondasi karirnya, di mana IRGC kemudian melahirkan banyak tokoh kunci intelijen dan keamanan Iran.
Sejak ayahnya naik menjadi Pemimpin Tertinggi pada 1989, peran Mojtaba semakin sentral. Ia mengelola akses ke aset bisnis bernilai miliaran dolar melalui berbagai bonyad (yayasan amal) yang menjadi tulang punggung ekonomi teokrasi Iran.
Baca Juga: Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran, Ini Fakta Lengkap yang Perlu Diketahui
Peran sebagai 'The Gatekeeper' dan Pengaruh di Balik Layar
Menurut dokumen diplomatik AS yang bocor melalui WikiLeaks, Mojtaba digambarkan sebagai manajer tegas yang represif. Ia dijuluki "penjaga gerbang utama" karena pengaruh besarnya terhadap komandan Pasukan Quds dan organisasi paramiliter Basij.
Nama Mojtaba sering muncul dalam kontroversi pemilu presiden 2005 dan 2009, terutama terkait dukungannya terhadap Mahmoud Ahmadinejad.
Ia bahkan mendapat julukan "anak tuan" dari rival politik seperti Mahdi Karroubi. Bagi Ali Khamenei, Mojtaba bukan sekadar putra, melainkan pewaris yang siap mengambil alih kendali.
Pada 2019, pemerintahan Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadapnya karena dianggap mendukung ambisi regional Iran yang dianggap mengganggu stabilitas kawasan serta menekan demonstrasi domestik melalui Basij.
Baca Juga: Bagaimana Nasib Piala Dunia 2026 Usai Konflik AS-Iran? Begini Kata FIFA
Tantangan Besar di Tengah Konflik Terbuka
Kini, Mojtaba mewarisi posisi tertinggi di saat Iran berada dalam posisi paling sulit. Sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dan IRGC, ia memimpin negara di tengah perang terbuka melawan aliansi AS-Israel yang menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur vital Teheran.
Tragedi semakin berat setelah istri Mojtaba, Zahra Haddad Adel, juga tewas dalam serangan yang sama yang menewaskan ayahnya. Kini, ia berdiri sendirian di puncak kekuasaan, menghadapi tekanan global yang semakin berat.
Pengamat internasional mempertanyakan arah kepemimpinan baru ini: akankah Mojtaba memilih jalur diplomasi untuk meredakan konflik, atau justru memperkuat sikap perlawanan keras guna mempertahankan ideologi revolusi Islam?
Penunjukannya menandakan kelanjutan garis keras, namun juga menguji ketahanan sistem teokrasi Syiah Iran di era perang modern.