POSKOTACOID - Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam berbondong-bondong mulai meningkatkan ibadahnya untuk bisa bertemu malam Lailatul Qadar.
Seperti yang diketahui, salah satu momen yang paling dinantikan umat Islam di seluruh dunia pada bulan Ramadhan adalah malam Lailatul Qadar.
Malam Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa. Bahkan dalam QS. Al-Qadr disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dalam seribu bulan.
Baca Juga: Hari Ini 10 Maret 2026 Puasa ke Berapa? Cek Kalender Ramadhan 2026 dan Bacaan Doa yang Dianjurkan
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr [97]: 1-5).
Lantas, kapan malam Lailatul Qadar 2026? Apakah hari ini adalah malam Lailatul Qadar?
Kapan Malam Lailatul Qadar 2026?
Mengutip dari NU Online, perihal kapan datangnya malam Lailatul Qadar tidak ada seorang pun yang bisa memastikannya karena merupakan rahasia Allah.
Namun, umat Islam meyakini jika malam Lailatul Qadar berada pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, yaitu antara malam ke-21, ke-23, ke-25, atau ke-27.
Baca Juga: Cari Menu Sahur Simpel? 4 Resep Marinasi Ikan Ini Bikin Masak Jadi Lebih Sat-set
Keyakinan tersebut didasari pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah ra.
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Intailah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Selain itu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas dikatakan bahwa Rasulullah memberikan beberapa petunjuk terkait malam Lailatul Qadar.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, pada saat tersisa sembilan malam, tujuh malam, atau lima malam.” (HR. al-Bukhari)
Hadis ini biasanya dipahami sebagai malam-malam ganjil seperti tanggal 21, 23, atau 25 Ramadan. Meski begitu, banyak juga ulama yang meyakini bahwa malam tersebut jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.
Apakah Hari Ini Malam Lailatul Qadar?
Dikarenakan saat ini sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat Islam mulai menanyakan kapan malam Lailatul Qadar.
Jika mengacu pada kalender Ramadhan 2026 yang dirilis pemerintah, hari ini, Selasa, 10 Maret 2026 merupakan puasa hari ke-20.
Baca Juga: Kapolres Metro Depok Santuni Anak Yatim dan Buka Puasa Bersama Peringati Nuzulul Quran
Dalam kalender Hijriah Islam, perhitungan hari baru atau tanggal baru dimulai setelah Magrib. Artinya, pada hari ini usai adzan Magrib atau setelah berbuka puasa sudah memasuki puasa ke-21 Ramadhan.
Apabila mengacu pada hadits dan penjelasan mengenai malam Lailatul Qadar, maka bukan tidak mungkin jika hari ini, tepatnya setelah Magrib adalah malam Lailatul Qadar.
Meski demikian, perlu diperhatikan lagi bahwa tidak ada yang tahu kapan malam Lailatul Qadar datang sehingga Nabi Muhammad SAW mengajurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah setiap hari.
Ciri-ciri Malam Lailatul Qadar
Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH. Abdul Muiz Ali, mengungkapkan bahwa ada beberapa tanda yang dapat dikenali oleh umat Islam untuk dijadikan petunjuk datangnya malam Lailatul Qadar.
Berikut ini ini beberapa tanda datangnya malam Lailatul Qadar, seperti dikutip dari situs resmi MUI.
1. Tidak hujan dan tidak panas
Salah satu tanda yang dapat dikenali untuk mengetahui malam Lailatul Qadar adalah cuaca dan suasana pada hari itu.
Dijelaskan oleh Kia AMA bahwa pada saat malam Lailatul Qadar cuaca akan cerah dan suasananya tenang untuk beribadah. Hal ini seperti yang tertuang dalam riwayat Ahmad.
"Ada tanda-tandanya. Salah satunya, tidak dalam keadaan hujan. Tidak dalam keadaan hujan, dan ia merasakan tenang untuk ibadah itu. Tidak hujan dan tidak panas," kata Kiai AMA seperti dikutip dari laman MUI.
Pada malam Lailatul Qadar, langit akan terang dan tenang seolah-olah bulan bercahaya seperti bulan purnama, dan udara menjadi sangat damai, dikutip dari Muhammadiyah.
2. Jatuh pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan
Lebih lanjut, Kiai AMA juga menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, tepatnya pada malam-malam ganjil.
Adapun, malam-malam ganjil yang diyakini menjadi salah satu malam Lailatul Qadar, yakni pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, dan ke-29.
Dikutip dari NU Online, hal ini sebagaimana yang termaktub pada Kitab Irsyadul Ibad. Diketahui bahwa pada 10 hari terkahir Ramadhan, Nabi Muhammad meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya.
3. Sinar matahari terbit berwarna putih
Dalam sejumlah hadits juga dijelaskan bahwa ciri malam Lailatul Qadar lainnya berkaitan dengan cahaya matahari yang terbit pada hari itu.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ubay bin Ka'ab disebutkan bahwa matahari yang terbit sebelum malam Lailatul Qadar akan berwarna putih terang tapi tidak menyengat.
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا.
“Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru” (HR. Muslim no. 762, dari Ubay bin Ka’ab).