POSKOTA.CO.ID - Kedai kopi di Semarang setelah strategi promosi viral mereka menuai kritik dari warganet. Kedai bernama Feels Coffee itu menjadi sorotan publik karena penggunaan singkatan yang dianggap tidak pantas dalam unggahan promosi mereka.
Perbincangan di media sosial semakin ramai setelah warganet menemukan bahwa kedai tersebut juga menggunakan nama-nama perempuan sebagai nama menu minuman.
Hal ini memicu berbagai reaksi, mulai dari kritik hingga kecaman yang ramai bermunculan di kolom komentar akun media sosial mereka.
Situasi tersebut membuat pihak Feels Coffee akhirnya memberikan klarifikasi dan permintaan maaf kepada publik. Meski demikian, sebagian warganet menilai penjelasan yang disampaikan belum cukup meredakan kontroversi yang terlanjur viral.
Promosi Barista Berujung Kontroversi
Awal polemik bermula ketika Feels Coffee memperkenalkan seorang barista muslimah yang tampil mengenakan hijab. Dalam unggahan tersebut, kedai kopi itu menggunakan istilah yang disingkat menjadi kata yang dinilai tidak pantas oleh publik.
Singkatan tersebut berasal dari frasa 'ngenal total', namun dipendekkan menjadi kata yang dalam bahasa gaul sering merujuk pada aktivitas hubungan seksual. Penggunaan kata tersebut memicu kritik tajam dari warganet yang menganggapnya tidak layak digunakan dalam promosi.
Kritik pun terus bermunculan hingga akhirnya kolom komentar di akun Instagram mereka dibatasi.
Menu Kopi Gunakan Nama-Nama Wanita
Kontroversi tidak berhenti di situ. Warganet juga menyoroti daftar menu di Feels Coffee yang menggunakan nama-nama perempuan. Beberapa menu yang sempat menjadi sorotan antara lain:
- Kopi Susu Nadia (almond)
- Putri (pandan)
- Bella (gula aren)
- Cindy (salted caramel)
- Dewi (butterscotch)
Setiap minuman tersebut dijual dengan harga Rp18 ribu. Penamaan menu ini kemudian memicu perdebatan karena dianggap sebagian pihak tidak sensitif.
Baca Juga: Arti Baju Biru di Pemakaman Vidi Aldiano Apa? Ternyata Ini Filosofi di Baliknya
Klarifikasi Feels Coffee dan Sampaikan Permintaan Maaf

Menanggapi polemik yang terjadi, akun Instagram mereka akhirnya menyampaikan permintaan maaf pada Kamis, 5 Maret 2026. "Kami meminta maaf terkait postingan pengenalan barista kami sebelumnya dengan judul 'ngenal total' yang disingkat menjadi sebuah kata yang tidak pantas," tulis mereka.
Unggahan promosi yang memicu kontroversi itu pun langsung dihapus dari akun resmi mereka. "Ini menjadi pembelajaran penting bagi tim kami untuk lebih berhati-hati dalam membuat konten ke depannya," lanjut mereka.
Klarifikasi Soal Nama Wanita di Menu
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada Sabtu, 7 Maret 2026, pihak Feels Coffee kembali memberikan klarifikasi terkait penggunaan nama-nama perempuan dalam menu minuman mereka.
"Feels Coffee dibangun dari cerita-cerita personal kami. Dari orang-orang yang ada dalam hidup kami, sosok yang memberi kami semangat, inspirasi, bahkan pelajaran hidup yang membentuk kami sampai hari ini," terang mereka.
Pihak kedai juga menegaskan bahwa penggunaan nama tersebut bukan bertujuan untuk merendahkan perempuan. "Bagi kami, nama-nama itu adalah bentuk penghargaan kepada orang-orang yang memberi arti dalam perjalanan hidup kami," tegas mereka.
Baca Juga: PodHub Masih Lanjut Atau Tidak? Ini Nasib Podcast Deddy Corbuzier usai Vidi Aldiano Meninggal Dunia
Menu Diganti, Warganet Tetap Kritik
Sebagai langkah lanjutan, Feels Coffee akhirnya memutuskan untuk mengganti nama menu minuman yang sebelumnya menggunakan nama perempuan.
Mereka juga mengundang perempuan yang memiliki nama sama dengan menu tersebut untuk datang ke kedai dan mendapatkan kopi susu gratis sebagai bentuk permintaan maaf.
Namun langkah tersebut belum sepenuhnya meredakan kritik. Sejumlah warganet menilai klarifikasi yang disampaikan pihak kedai tidak cukup meyakinkan.
"'Untuk Menghormati' tapi campaign yang dilakukan dengan cara yang sangat tidak hormat. Dungu Total" kata akun @aula**
"NORAK TIM LO! Biar laku sampe segitunya" ucap akun @ferdi***
Kontroversi ini pun menjadi pengingat bahwa strategi promosi di media sosial harus dirancang dengan lebih sensitif agar tidak menimbulkan makna yang salah di tengah masyarakat.