TEBET, POSKOTA.CO.ID - Sebanyak 396 bidang rumah warga di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, terdampak rencana pembebasan lahan program normalisasi Kali Ciliwung.
Rumah-rumah tersebut berada di bantaran sungai dan menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengurangi risiko banjir serta bencana longsor di wilayah tersebut.
Program ini menyasar permukiman warga di RW 10 Kelurahan Kebon Baru, yang berada tepat di sepanjang bantaran Kali Ciliwung.
Camat Tebet, Putut Puji Linangkung, mengatakan berdasarkan data sementara terdapat 396 bidang rumah yang terdampak pembebasan lahan.
Baca Juga: 55 Rumah di Kebon Baru Jaksel Terancam Longsor, 6 Kontrakan Rusak di Bantaran Kali Ciliwung
Ratusan rumah tersebut tersebar di enam RT di RW 10 Kelurahan Kebon Baru.
“Data jumlah warga yang terkena normalisasi Kali Ciliwung di RW 10 Kebon Baru adalah total 396 bidang. Untuk RW 11 dan RW 14 masih menunggu datanya,” ujar Putut melalui pesan singkat, Sabtu, 7 Maret 2026.
Sosialisasi Sudah Berjalan Sejak 2023
Menurut Putut, proses pendataan dan sosialisasi kepada warga yang terdampak program normalisasi sungai telah dilakukan sejak beberapa tahun terakhir.
Ia menjelaskan bahwa tahapan sosialisasi kepada warga telah dimulai sejak 2023 dan masih terus berlanjut hingga saat ini.
Baca Juga: 6 Rumah Kontrakan Hancur Akibat Longsor di Tebet Jaksel, BPBD Lakukan Penanganan
Proses tersebut dilakukan secara bertahap untuk memastikan pendataan serta komunikasi kepada warga berjalan dengan baik.
“Pembebasan lahan akan dilakukan di sekitar RW 10 yang berada di bantaran Ciliwung. Prosesnya bertahap dari arah Rawajati, Pancoran,” jelasnya.
Putut menambahkan bahwa tahapan sosialisasi dilakukan secara berkelanjutan.
“Tahapan sosialisasi dimulai sejak tahun 2023, lalu dilanjutkan pada 2024 dan 2025,” tambahnya.
Longsor Rusak Enam Rumah Kontrakan
Sebelumnya, enam bangunan rumah kontrakan di Jalan X, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, mengalami kerusakan akibat tanah longsor pada Jumat, 6 Maret 2026.
Salah satu penghuni kontrakan, Istiqomah mengatakan longsor terjadi sekitar pukul 10.00 WIB saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa retakan pada bangunan sebenarnya sudah muncul sekitar seminggu sebelum longsor terjadi, terutama di bagian dapur rumah kontrakan.
“Seminggu sebelum longsor memang sudah ada retakan. Retakan juga terlihat di jalanan,” ujar Istiqomah.
Baca Juga: 101 Bodypack Terkumpul Akibat Bencana Longsor Pasirlangu, 10 Belum Teridentifikasi
Menurutnya, longsor diduga dipicu oleh kondisi tanah yang lembek akibat aliran air di saluran warga yang berada di sekitar lokasi.
“Di situ kan ada saluran air warga. Mungkin ada rembesan atau pengikisan tanah, ditambah hujan deras, akhirnya tanahnya lembek dan longsor,” jelasnya.
Beruntung, saat kejadian rumah kontrakan tersebut dalam kondisi kosong karena sebelumnya sudah dikosongkan setelah muncul retakan pada bangunan.
“Pas kejadian saya memang tidak ada di rumah. Memang sudah kami kosongkan karena ada retakan,” tuturnya.
Rumah kontrakan yang rusak diketahui berada persis di bantaran Kali Ciliwung, kawasan yang selama ini dipadati permukiman warga.