Penutupan jalur ini membuat suplai minyak global terganggu. Berdasarkan data terbaru, harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan hingga lebih dari 20 persen sejak awal tahun dan sempat menyentuh kisaran 72 dolar AS per barel. Dalam skenario terburuk, harga bisa melonjak ke 100 hingga 120 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak tersebut bakal memberikan tekanan besar bagi subsidi energi dalam negeri karena Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada energi fosil
Selain itu, hal ini juga bakal memengaruhi beban subsidi dan memicu tekanan pada defisit anggaran karena APBN 2026 menggunakan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS. Jika terjadi, bukan tidak mungkin harga BBM mengalami kenaikan.
Baca Juga: THR 2026 Karyawan Swasta Cair Kapan? Ini Prediksi Waktu Pencairan Sesuai Aturan Kemnaker
2. Inflasi Komoditas Pangan
Harga komoditas pangan dalam negeri, seperti ayam, telur, beras, dan sayuran berisiko meningkat apabila konflik terus berlangsung karena dapat mengganggu rantai pasok global yang menyebabkan biaya produksi serta logistik terpengaruhi.
Apabila harga pangan naik, maka pendapatan kelas menengah yang tadinya dapat didishkan untuk tabungan atau investasi, kini harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
3. Tekanan Utang dan Risiko Fiskal
Perang yang semakin meluas dan berkepanjangan bukan tidak mungkin membuat kebutuhan pembiayaan bertambah untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Penarikan utang dalam jumlah besar tanpa pertumbuhan penerimaan yang seimbang akan mempersempit ruang kebijakan fiskal. Risiko defisit melebar dan beban bunga meningkat menjadi perhatian serius.
Terlebih, pada Februari 2026, Indonesia diketahui baru saja menarik utang sebesar Rp75,6 triliun.
4. Harga emas Meroket, Rupiah Tertekan
Kondisi geopolitik yang tak kunjung membaik akan membuat investor mengalihkan aset yang dimiliki ke aset aman atau safe heaven, terutama emas.
Dalam enam bulan terakhir, harga emas global tercatat naik sekitar 48,4 persen. Bahkan, saat perang baru pecah pada pekan lalu, harga emas sudah terpantau mengalami lonjakan tajam.
Di sisi lain, kondisi ini juga menyebabkan nilai rupiah melemah karena arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Hal ini membuat adanya ketimpangan sosial.
