POSKOTACOID - Perang Iran vs Israel-AS yang sudah berlangsung selama sepekan terakhir ternyata berdampak pada secara global.
Eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas hingga berujung pada penutupan Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan terbesar di dunia memberikan risiko nyata bagi kondisi perekonomian dunia.
Presiden Prabowo Subianto bahkan baru-baru ini menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh nasional untuk membahas persiapan Indonesia dalam menghadapi kemungkinan tantangan yang terjadi akibat konflik global.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 6 Maret 2026 Turun ke Rp3.024.000 per Gram, Beli Sekarang?
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tersebut turut menyoroti potensi dampak ekonomi yang luas akibat ketegangan di Timur Tengah yang berlangsung saat ini.
"Didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia khususnya yang menyangkut supply, oil, minyak, dan gas. Kita berhitung semua efeknya terhadap kita dari sisi itu saja, tapi juga dari sisi kalkulasi berapa lama perang ini akan terlangsung,” kata Hassan dalam keterangannya, seperti dikuti dari laman Kementerian Sekretariat Negera RI.
Lantas, apa saja dampak ekonomi yang bakal dirasakan Indonesia akibat meningkatnya ketegangan konflik Iran vs Israel-AS?
Baca Juga: Dana THR ASN 2026 Belum Masuk Rekening? Ternyata Ini 4 Faktor Penyebabnya
Potensi Dampak Perang Iran bagi Ekonomi Indonesia
Menghimpun dari situs LBS Urun Dana, ada sejumlah kemungkinan yang dapat terjadi terhadap perekonomian Indonesia akibat dari perang yang sata ini berlangsung.
Berikut ini beberapa dampak perang Iran bagi kondisi ekonomi Indonesia seperti dikutip dari LBS Urun Dana dari
1. Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman BBM Naik
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, perang di Timur Tengah yang terjadi saat ini berimbas pada penutupan Selat Hormuz yang merupakan lalu lintas pengiriman minyak dunia.
Penutupan jalur ini membuat suplai minyak global terganggu. Berdasarkan data terbaru, harga minyak mentah Brent mengalami kenaikan hingga lebih dari 20 persen sejak awal tahun dan sempat menyentuh kisaran 72 dolar AS per barel. Dalam skenario terburuk, harga bisa melonjak ke 100 hingga 120 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak tersebut bakal memberikan tekanan besar bagi subsidi energi dalam negeri karena Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat bergantung pada energi fosil
Selain itu, hal ini juga bakal memengaruhi beban subsidi dan memicu tekanan pada defisit anggaran karena APBN 2026 menggunakan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS. Jika terjadi, bukan tidak mungkin harga BBM mengalami kenaikan.
Baca Juga: THR 2026 Karyawan Swasta Cair Kapan? Ini Prediksi Waktu Pencairan Sesuai Aturan Kemnaker
2. Inflasi Komoditas Pangan
Harga komoditas pangan dalam negeri, seperti ayam, telur, beras, dan sayuran berisiko meningkat apabila konflik terus berlangsung karena dapat mengganggu rantai pasok global yang menyebabkan biaya produksi serta logistik terpengaruhi.
Apabila harga pangan naik, maka pendapatan kelas menengah yang tadinya dapat didishkan untuk tabungan atau investasi, kini harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
3. Tekanan Utang dan Risiko Fiskal
Perang yang semakin meluas dan berkepanjangan bukan tidak mungkin membuat kebutuhan pembiayaan bertambah untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Penarikan utang dalam jumlah besar tanpa pertumbuhan penerimaan yang seimbang akan mempersempit ruang kebijakan fiskal. Risiko defisit melebar dan beban bunga meningkat menjadi perhatian serius.
Terlebih, pada Februari 2026, Indonesia diketahui baru saja menarik utang sebesar Rp75,6 triliun.
4. Harga emas Meroket, Rupiah Tertekan
Kondisi geopolitik yang tak kunjung membaik akan membuat investor mengalihkan aset yang dimiliki ke aset aman atau safe heaven, terutama emas.
Dalam enam bulan terakhir, harga emas global tercatat naik sekitar 48,4 persen. Bahkan, saat perang baru pecah pada pekan lalu, harga emas sudah terpantau mengalami lonjakan tajam.
Di sisi lain, kondisi ini juga menyebabkan nilai rupiah melemah karena arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Hal ini membuat adanya ketimpangan sosial.
Pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi mengalami volatilitas lebih besar jika arus modal global berubah arah secara signifikan.
5. Harga Kebutuhan Hidup Naik
Sejumlah dampak perang tersebut pada akhirnya akan membuat harga kebutuhan hidup sehari-hari mengalami kenaikan.
Harga BBM yang naik berarti membuat ongkos transportasi ikut meningkat. Selain itu, kenaikan harga BBM juga berpengaruh pada biaya produksi dan logistik yang ikut naik sehingga menyebabkan harga pangan melonjak.
Harga pangan yang naik membuat kebutuhan belanja bulanan membengkak. Nilai tukar melemah berarti harga barang impor semakin mahal.