POSKOTA.CO.ID - Fenomena gerhana bulan total akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 serta bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 Hijriah.
Tentu saja, adanya fenomena ini sayang untuk dilewatkan, sebab menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melaksanakan shalat gerhana bulan.
“Gerhana bulan total ini dikenal dengan istilah Moonrise Eclipse, karena bulan akan terbit dalam keadaan sudah berada di fase gerhana. Gerhana bulan total sesaat setelah berbuka menambah kekhidmatan ibada puasa,” kata Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaludin dikutip dari akun Instagram resmi @brin_indonesia, Selasa.
Thomas menjelaskan gerhana bulan total ini terjadi saat matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus yang sempurna.
Baca Juga: Ada Gerhana Matahari Cincin Hari Ini 17 Februari 2026, Apakah Pertanda Hilal 1 Ramadhan 1447 H?
Ia menyebutkan dalam kondisi tersebut bulan seolah “bersembunyi” di bayangan inti bumi (umbra). Kemudian cahaya matahari terhalang total, tetapi bulan tidak gulap gelita dan justru tampak berwarna jingga hingga merah gelap.
“Karena tampilan khas dan dramatis inilah dikenal fenomena “Blood Moon” (Bulan Merah Darah),” kata Thomas.
Dari keterangan BRIN, waktu mulai gerhana bulan ini pukul 16.50 WIB. Lalu, fase total “Blood Moon” terjadi pukul 18.04 - 19.02 WIB.
Selanjutnya, gerhana bulan sebagian berakhir pukul 20.17 WIB.
Baca Juga: Awal Ramadhan 2026 Mulai Kapan? Gerhana Matahari Cincin Jadi Penentu Astronomis
Tata Cara dan Kenapa Shalat Gerhana Dilakukan?

Mengutip akun Instagram resmi @kemenag_ri, shalat khusuf atau shalat gerhana bulan hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Pasalnya bagi umat Islam, gerhana bulan merupakan momen spiritual untuk menganggungkan kebesaran Allah SWT.
Tata cara shalat gerhana sedikit berbeda dari shalat sunnah pada umumnya, yaitu dua rakaat dengan setiap rakaatnya memiliki dua ruku dan dua i’tidal.
Adapun tata cara shalat gerhana, antara lain:
- Niat dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram.
Arab:
أُصَلِّي سُنَّةَ الْخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin:
Ushalli sunnatal khusuufi rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
Artinya:
“Saya niat shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
- Membaca doa iftitah, taawudz, Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an dengan suara jahr (lantang).
- Rukuk pertama dengan bacaan tasbih yang lebih panjang dari rukuk shalat biasa.
- I’tidal (bangkit dari rukuk). Membaca kembali Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an yang lebih pendek dari bacaan pertama.
- Rukuk kedua dengan durasi lebih singkat dari rukuk pertama.
- I’tidal.
- Sujud pertama.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
- Setelah itu berdiri untuk rakaat kedua dengan tata cara yang sama seperti rakaat pertama, namun bacaan surat lebih pendek dibandingkan rakaat pertama. Shalat kemudian diakhiri dengan tasyahud akhir dan salam.
Kemenag pun menganjurkan untuk memperbanyak doa, zikir dan istighfar selama berlangsungnya gerhana bulan.