POSKOTA.CO.ID - Isu perdamaian di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sorotan dunia setelah munculnya gagasan Board of Peace (BOP) yang diinisiasi oleh Donald Trump.
Program yang disebut sebagai langkah menuju stabilitas kawasan ini justru memicu perdebatan luas, terutama setelah meningkatnya konflik yang melibatkan serangan gabungan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran.
Sejumlah tokoh dan pengamat menilai konsep tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan upaya perdamaian yang netral.
Kritik pun datang dari berbagai kalangan, termasuk aktivis dan pendakwah Ustadz Felix Siauw yang secara terbuka mempertanyakan arah kebijakan geopolitik di balik inisiatif tersebut.
Baca Juga: 5 Perbedaan Zakat, Infaq, dan Sedekah, Awas Keliru!
Board of Peace dan Kontroversi Narasi Perdamaian

Board of Peace diperkenalkan sebagai upaya diplomatik untuk meredakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah melalui pendekatan politik dan pembangunan ekonomi.
Dalam pandangannya, Ustaz Felix Siauw menilai konsep perdamaian yang diusung justru menimbulkan kecurigaan karena digagas oleh pihak yang selama ini terlibat langsung dalam konflik kawasan.
"Bodohnya kita adalah kita ngomong tentang peace sama para penjahat internasional... Kok kita mau yakin sama orang-orang yang sudah terbiasa sampai sekarang track record-nya adalah ngelanggar aturan?" ujar Felix Siauw dalam kanal YouTube-nya yang dikutip Poskota pada, 2 Maret 2026.
Menurutnya, perdamaian sejati tidak dapat dibangun jika proses diplomasi dilakukan tanpa keadilan dan keseimbangan kekuatan antar pihak.
Konsep 'The New Gaza' Picu Kekhawatiran Baru
Salah satu bagian penting dari Board of Peace adalah rencana pembangunan ulang Gaza yang disebut sebagai 'The New Gaza'. Secara konsep, proyek ini digambarkan sebagai langkah rekonstruksi kemanusiaan pascakonflik.
Namun sejumlah pengamat menilai rencana tersebut berpotensi mengarah pada kontrol politik yang lebih ketat terhadap wilayah Gaza, menyerupai kondisi di Tepi Barat yang aktivitas keamanan dan pergerakannya sangat terbatas.
Felix Siauw turut menyoroti potensi dampak kebijakan tersebut terhadap kebebasan rakyat Gaza.
"Trump secara tidak langsung berhasil untuk melakukan sesuatu yang enggak pernah berhasil dilakukan oleh Israel, yaitu menjadikan orang-orang di Gaza tunduk dan diambil kebebasannya dan diatur nantinya seperti di West Bank dengan konsep The New Gaza."
Baca Juga: Hukum Bayar Zakat Fitrah dan Zakat Mal Sekaligus di Bulan Ramadhan: Boleh atau Tidak?
Ustaz Felix Siauw Tanggapi Serangan Iran dan Isu Perang Dunia ke-3
Reaksi keras juga disampaikan Felix Siauw saat menanggapi pernyataan Donald Trump terkait konflik terbaru di Timur Tengah melalui video media sosial pribadinya.
“Teman-teman sekalian, bos BoP Donald Trump nyerang Iran, newasin banyak banget orang-orang, dan tentu saja ini diinisiasi juga oleh Israel. Mereka berdua, Amerika dan Israel, nyerang Iran, dan ini adalah officially, resmi, World War 3 sebagaimana yang kita takutkan,” ujar Ustadz Felix.
Ia menilai penggunaan istilah perdamaian justru dijadikan legitimasi atas tindakan militer yang terjadi di kawasan tersebut.
“Trump bilang ini semua dilakukan untuk peace throughout the Middle East. Dia mengatasnamakan peace, mengatasnamakan kedamaian. Jadi, teman-teman sudah tahu sekarang seperti apa peace yang dimaksud di dalam Board of Peace. Artinya perdamaian versi Trump adalah dia boleh menyerang siapa pun, menghancurkan siapa pun. Itu perdamaian yang dia maksud,” lanjutnya.
Menurut Felix, Board of Peace lebih mencerminkan strategi geopolitik dan penguatan pengaruh global dibandingkan misi perdamaian murni.
Baca Juga: Apakah Shahih Hadits dari 'Tidur Orang Berpuasa Adalah Ibadah'? Ini Penjelasan Lengkapnya
Seruan Perubahan Cara Pandang Konflik Palestina
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, Felix Siauw juga menekankan pentingnya perubahan cara berpikir dalam melihat konflik Palestina dan dinamika kekuatan global.
"Liberation of mind before liberation of land. Tidak mungkin kita akan menang kecuali dengan cara kita sendiri, dengan cara yang telah disampaikan oleh Rasulullah, bukan dengan cara dan logika penjajah dan penjahat perang."
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa solusi konflik tidak hanya bergantung pada diplomasi internasional, tetapi juga pada kemandirian perspektif masyarakat yang terdampak.
Bagi sebagian pihak, inisiatif ini dianggap sebagai peluang stabilitas kawasan, namun bagi para kritikus, termasuk Ustaz Felix Siauw, konsep tersebut justru dinilai berpotensi memperpanjang konflik melalui narasi perdamaian yang kontroversial.
Perdebatan mengenai arti sebenarnya dari 'perdamaian' pun terus berlangsung, memperlihatkan bagaimana kebijakan internasional dapat dimaknai berbeda oleh berbagai pihak di dunia.