POSKOTA.CO.ID - Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momentum penting bagi umat Islam di seluruh dunia untuk memperbaiki kualitas ibadah dan memperkuat keimanan.
Di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah ini, kita sebagai umat muslim harus melakukan berbagai persiapan, mulai dari kesiapan fisik, mental, hingga spiritual agar ibadah puasa dapat dijalani secara maksimal.
Tidak hanya soal perubahan pola makan dan waktu aktivitas, Ramadhan juga menjadi waktu terbaik untuk melakukan introspeksi diri.
Banyak ulama mengingatkan bahwa ibadah puasa Ramadhan ini sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembinaan akhlak serta pengendalian hawa nafsu.
Baca Juga: Bahaya Perubahan Pola Tidur Selama Ramadhan, Ketahui Cara Mengaturnya agar Tetap Sehat dan Produktif
Poskota melansir dari channel YouTube Ustadz Abdul Somad Official, Pesan yang kembali ditegaskan oleh Ustadz Abdul Somad (UAS) terkait makna dari berpuasa.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Islam memahami hakikat puasa secara lebih mendalam agar Ramadhan tidak berlalu tanpa membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar
Dalam ceramah yang disampaikan dengan gaya santai namun penuh makna, UAS menyoroti kesalahpahaman yang masih banyak terjadi di tengah masyarakat terkait makna berpuasa.
Ia menilai sebagian orang memaknai puasa hanya sebagai aktivitas menahan lapar layaknya program diet. "Kalau hanya sekadar makan minum, banyak ibu-ibu tak makan tak minum... diet karbo. Tapi ketika menahan lidah, menahan hati, dan menahan pikiran, inilah puasa yang sesungguhnya," tegas Ustadz Abdul Somad yang dikutip Poskota pada, 26 Februari 2026.
Menurutnya, inti puasa terletak pada kemampuan seseorang mengendalikan emosi, ucapan, hingga pikiran agar tetap berada dalam koridor kebaikan selama Ramadhan berlangsung.
Baca Juga: Apa Saja Manfaat Puasa bagi Tubuh dan Mental? Ini Penjelasan Lengkap Dokter Aisah Dahlan
Puasa Melibatkan Seluruh Anggota Tubuh
UAS menjelaskan bahwa puasa yang sempurna harus melibatkan seluruh anggota tubuh, bukan hanya perut. Setiap indera memiliki tanggung jawab untuk dijaga agar ibadah puasa tidak kehilangan nilai pahalanya.
Mulut harus dijaga dari gibah atau perkataan sia-sia yang dapat merusak pahala. Mata dan telinga juga perlu dikendalikan agar tidak melihat maupun mendengar hal yang dilarang. Selain itu, hati harus dibersihkan dari sifat dengki, iri, serta kesombongan.
Ia mengingatkan bahwa pahala puasa dapat berkurang bahkan hilang jika seseorang tetap melakukan gibah meski sedang berpuasa. "Jangan ajak ambo gibah dong... habis pahala puasa. Stop!" ujar beliau memberi amaran kepada jemaah agar tidak terjebak dalam perbualan kosong yang merosakkan ibadah.
Ramadhan Bukan Bulan Bermalas-malasan
Dalam kesempatan tersebut, UAS juga menyinggung anggapan keliru yang menganggap Ramadhan sebagai waktu untuk banyak tidur. Ia menegaskan bahwa bulan puasa justru menjadi momentum meningkatkan produktivitas dan semangat ibadah.
Menurutnya, sejarah Islam mencatat berbagai peristiwa besar yang terjadi pada bulan Ramadhan, salah satunya Perang Badar, yang menunjukkan bahwa umat Islam tetap aktif dan berjuang meski sedang berpuasa. "Bulan puasa bukan bulan tidur-tiduran, bukan bulan bermalas-malasan. Bulan puasa adalah bulan jihad, bulan melawan hawa nafsu," kata UAS.
Baca Juga: 10 Ide Bisnis Ramadhan 2026 Minim Pesaing dengan Keuntungan Menjanjikan
Menghidupkan Kepedulian Sosial di Bulan Puasa
Selain pengendalian diri, UAS juga menekankan pentingnya meningkatkan kepedulian sosial selama Ramadhan. Salah satu amalan yang dianjurkan adalah berbagi makanan berbuka puasa kepada orang lain.
Ia mengajak umat Islam memperbanyak sedekah serta mempererat hubungan sosial dengan tetangga dan masyarakat sekitar, sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan memperbanyak kuah masakan agar dapat dibagikan kepada sesama.
Melalui pemahaman makna puasa yang lebih mendalam, diharapkan umat Islam tidak hanya memperoleh lapar dan dahaga semata, tetapi juga mampu meraih derajat takwa, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan integritas diri sepanjang bulan Ramadhan.