POSKOTA.CO.ID - Sebuah unggahan video di media sosial baru-baru ini menjadi sorotan nasional setelah alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas (Tyas), memamerkan paspor Inggris milik anaknya.
Pernyataan yang menyertai konten tersebut, “Cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA,” langsung memicu gelombang kritik keras dari netizen.
Banyak warganet menilai ucapan itu merendahkan status kewarganegaraan Indonesia dan tidak sesuai dengan semangat nasionalisme, apalagi mengingat pendidikan Dwi dan suaminya dibiayai dana publik melalui program beasiswa bergengsi LPDP.
Kronologi Kontroversi yang Viral di Media Sosial
Kontroversi bermula dari konten yang diunggah Dwi di akun Instagram dan Threads pribadinya. Dalam video tersebut, ia menunjukkan dokumen kewarganegaraan Inggris anak keduanya, lengkap dengan paspor British yang disertai ekspresi kebahagiaan.
Baca Juga: Apa Itu Status PTKP? Ini Arti K3, K0, TK0, HB hingga K2 yang Wajib Diketahui Pekerja
Kalimat yang disematkan dianggap oleh sebagian besar publik sebagai bentuk ketidakbanggaan terhadap paspor Indonesia, yang sering dikritik memiliki kekuatan terbatas dibandingkan paspor negara maju.
Video itu sempat dihapus setelah ramai dibicarakan, tetapi potongan-potongannya telah menyebar luas di berbagai platform, termasuk TikTok, Twitter/X, dan grup WhatsApp.
Polemik ini tidak hanya menyasar Dwi, tetapi juga suaminya, Arya Iwantoro, yang juga alumni LPDP dan diduga belum menyelesaikan kewajiban kontribusi pasca-studi sesuai aturan 2N+1 (dua kali masa studi ditambah satu tahun pengabdian di Indonesia).
LPDP sendiri angkat bicara dengan menyatakan penyesalan atas insiden ini, menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak mencerminkan nilai integritas dan etika yang ditanamkan kepada para awardee.
Bahkan, lembaga tersebut berencana memanggil suami Dwi untuk klarifikasi dan potensi sanksi, termasuk pengembalian dana beasiswa jika terbukti melanggar komitmen.
Permintaan Maaf Terbuka dari Dwi Sasetyaningtyas

Menanggapi hujatan yang masif, Dwi Sasetyaningtyas akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun media sosialnya pada Jumat, 20 Februari 2026. Dalam klarifikasi tertulis dan video, ia mengakui bahwa penyampaiannya kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai perendahan terhadap identitas WNI.
“Saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” tulis Dwi.
Ia menjelaskan bahwa ucapan itu lahir dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang dialami. Namun, Dwi menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sikap anti-Indonesia, melainkan ekspresi emosional sebagai orang tua yang ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.
“Saya Mencintai Indonesia. Pernyataan itu murni pribadi dan saya menyesal atas dampak yang ditimbulkan,” tambahnya, sembari menyatakan siap bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.
Baca Juga: Link Video Nayafareza Blunder Viral, Misteri Baru di Balik Nama Nay TikTok
Latar Belakang Dwi Sasetyaningtyas dan Relevansi dengan Beasiswa LPDP
Dwi Sasetyaningtyas dikenal sebagai alumni LPDP yang aktif di bidang lingkungan dan pengelolaan sampah. Ia menempuh pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan melanjutkan magister di Delft University of Technology, Belanda, berkat dukungan beasiswa negara.
Sebagai influencer, ia sering membagikan konten edukatif tentang isu lingkungan di media sosial. Kasus ini kembali membuka perdebatan panas soal kewajiban moral dan hukum penerima beasiswa LPDP.
Publik menyoroti ekspektasi tinggi terhadap alumni untuk berkontribusi kembali ke Indonesia, bukan hanya prestasi akademik, tetapi juga komitmen kebangsaan.
Di sisi lain, sebagian pihak berpendapat bahwa pilihan kewarganegaraan anak merupakan ranah pribadi keluarga.
Kontroversi ini mencerminkan sensitivitas masyarakat terhadap isu nasionalisme, brain drain, dan akuntabilitas dana publik di tengah program beasiswa yang bertujuan membangun sumber daya manusia unggul untuk kemajuan bangsa.