POSKOTA.CO.ID - Ramadhan selalu menghadirkan suasana spiritual yang berbeda bagi umat Islam. Aktivitas ibadah meningkat, masjid dipenuhi jamaah, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di berbagai tempat, hingga semangat berbagi semakin terasa di tengah masyarakat.
Namun di balik semarak ibadah tersebut, muncul pertanyaan penting yang sering terlupakan, yakni apakah ibadah puasa yang dijalankan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT atau justru hanya sebatas menahan lapar dan haus semata.
Dalam salah satu kajiannya di channel YouTube @buyayahyaofficial, pendakwah Buya Yahya membahas persoalan ini saat mengulas Kitab Romadhoniat. Ia mengingatkan bahwa ada sejumlah perilaku yang dapat membuat puasa kehilangan makna bahkan berpotensi menjadi sia-sia.
Puasa, menurutnya, bukan sekadar menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib, tetapi juga latihan mengendalikan diri secara menyeluruh, mulai dari lisan, pandangan, hati, hingga hawa nafsu.
Baca Juga: Buka Puasa Pakai Makanan Berat? Begini Saran Dokter Tirta
5 Hal yang Bikin Puasa jadi Sia-Sia
Berikut lima hal yang perlu diwaspadai agar puasa tidak kehilangan pahala menurut penjelasan dari Buya Yahya.
- Masih Berbohong Saat Berpuasa
Salah satu tanda puasa belum menyentuh hati adalah ketika seseorang masih mudah berbohong. Berdusta, memberikan kesaksian palsu, atau memutarbalikkan fakta demi kepentingan pribadi dapat merusak nilai ibadah puasa.
Puasa sejatinya membentuk kejujuran dan meningkatkan rasa takut kepada Allah. Jika kebohongan masih menjadi kebiasaan, maka puasa hanya berhenti pada aspek fisik, belum sampai pada perbaikan akhlak.
- Ghibah yang Menghapus Pahala Perlahan
Ghibah kerap dianggap sebagai obrolan ringan, padahal dampaknya sangat besar terhadap pahala puasa.
Tanpa disadari, pahala yang dikumpulkan sejak pagi dapat berkurang hanya karena percakapan yang mengungkap aib orang lain. Puasa mengajarkan untuk menahan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat dan hanya berkata baik.
- Sembarangan Membagikan Konten yang Memicu Konflik
Banyak orang merasa tidak terlibat langsung dalam pertengkaran, namun justru memperkeruh keadaan melalui unggahan di media sosial. Buya Yahya mengingatkan bahwa konten yang dibagikan bisa menjadi sumber permusuhan antar sesama.
“Share sesuatu menjadikan orang bermusuhan. Hari ini ribut orang. Bahasannya (kadang-kadang) urusan agama. Dinaikkan, diangkat, ramai hebat debat ustaz dengan ustaz. Seram. Masya Allah. Semuanya pengikut lihat komentar-komentarnya menghabiskan pahala puasa, caci maki semuanya," ujarnya.
- Tidak Menjaga Pandangan di Dunia Nyata dan Media Sosial
Menundukkan pandangan merupakan bagian penting dari kesempurnaan puasa. Tantangan justru semakin besar di era digital ketika berbagai konten mudah diakses melalui gawai. Buya Yahya menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap godaan di dunia maya.
“Ternyata di alam maya lebih dahsyat lagi urusan aurat. Di alam nyata mungkin ada perempuan yang tersingkap auratnya lalu kita ingin melihatnya terhenti di saat dia sudah mulai sadar kita lihat. Tapi di alam maya kalau tidak sadar tidak akan berhenti, dan ini kadang terjadi di bulan Ramadhan,” katanya.
- Puasa Hanya Sekadar Mengubah Waktu Makan
Puasa bukan hanya memindahkan waktu makan dari siang ke malam. Ibadah ini seharusnya menjadi latihan menundukkan hawa nafsu dan memperbaiki perilaku. Namun masih ada yang tetap menikmati tontonan tidak pantas atau mengikuti dorongan syahwat tanpa upaya memperbaiki diri.
Buya Yahya menegaskan bahwa kurangnya pemahaman terhadap makna Ramadhan membuat ibadah menjadi sia-sia. “Karena dia tidak paham makna ini, maka di Ramadhan pun ternyata dia masih asyik dengan tontonan-tontonan yang tidak pantas," tegasnya.
Baca Juga: Bolehkah Pasutri Berhubungan Intim di Siang Ramadhan Jika Tidak Puasa? Ini Penjelasan Hukumnya
Puasa Bukan Sekadar Lapar dan Dahaga
Puasa yang diterima bukan hanya yang membuat tubuh menahan lapar, tetapi juga yang membersihkan hati serta memperbaiki akhlak. Menahan makan dan minum hanyalah dasar, sedangkan inti puasa adalah kemampuan mengendalikan amarah, lisan, pandangan, dan ego.
Ramadhan merupakan kesempatan berharga yang belum tentu datang kembali di tahun berikutnya. Karena itu, umat Muslim diingatkan untuk menjadikan bulan suci ini sebagai momen transformasi diri, bukan sekadar tradisi tahunan agar tidak termasuk golongan yang berpuasa namun hanya memperoleh lapar dan dahaga.