POSKOTA.CO.ID - Dari sebuah rumah sederhana di Kelurahan Monggonao, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, suara lantunan ayat suci Alquran tumbuh sejak usia dini.
Di ruang keluarga yang hangat itulah, seorang bocah bernama Muhammad Zian Fahrezi mulai mengeja huruf demi huruf dengan bimbingan orang tuanya.
Lahir di Mataram pada 2 November 2016, Zian bukan sekadar anak yang fasih membaca Alquran.
Ia merupakan bagian dari mata rantai keluarga penghafal 30 juz yang telah menorehkan prestasi hingga tingkat internasional.
Baca Juga: Tokoh Islam Nusantara yang Diakui Dunia, Ini 5 Ulama Indonesia Paling Berpengaruh
Dilansir dari laman kabarbaik.co pada Rabu, 18 Februari 2026. Berikut informasi mengenai Zian Fahrezi qori cilik asal Bima.
Tumbuh dari Keluarga Tahfidz Lintas Generasi

Ayahnya, Ahmad Azka Fuad, seorang ASN, dan ibundanya, Ruwaidah, wiraswasta, menjadi guru pertama dalam perjalanan tilawah Zian. Sejak usia empat tahun, ia mulai belajar membaca Alquran langsung dari sang bunda.
Proses itu berlangsung tanpa gemerlap panggung. Hanya kesabaran orang tua yang membimbing, memperbaiki makharijul huruf, serta menyempurnakan panjang-pendek bacaan. Hingga kini, latihan tersebut terus berjalan.
Zian lahir dari keluarga tahfidz. Sang ayah dan para pamannya hafal 30 juz Alquran. Keluarga besar mereka juga mengelola Pondok Pesantren Al Husaini di Kota Bima. Tradisi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
Kakeknya pernah meraih juara pertama internasional di Mekkah, sementara buyutnya, Haji Abu Bakar Husain, juga tercatat sebagai juara internasional. Prestasi tersebut bukan sekadar kebanggaan, tetapi warisan kecintaan terhadap Kalamullah.
Baca Juga: 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga, Apa Rahasia Keutamaan Mereka?
Langsung Melangkah ke Level Internasional
Yang membuat kisah Zian semakin menarik, ia belum pernah mengikuti lomba dari tingkat kelurahan hingga nasional. Debutnya justru langsung di panggung dunia.
Kompetisi internasional pertamanya digelar di Aljazair. Saat itu, Zian hanya mampu menembus semifinal. Faktor teknik pernapasan menjadi tantangan tersendiri bagi qori cilik tersebut.
Namun kegagalan itu menjadi pelajaran berharga. Pada 2026, ia kembali berlaga dalam ajang internasional di Irak.
Dengan persiapan intensif selama satu bulan mulai dari pola makan terjaga, olahraga rutin, hingga latihan ketat bersama ayahnya Zian tampil lebih matang.
Baca Juga: 5 Film Religi Indonesia yang Cocok Ditonton Jelang Ramadhan 2026
Hasilnya, ia sukses meraih juara pertama internasional. Sebuah pembalasan manis atas kegagalannya sebelumnya.
Mental Kuat di Usia Belia
Meski masih sangat muda, mental Zian terbilang tangguh. Ia kerap diundang tampil dalam berbagai kegiatan keagamaan, bahkan pernah menjadi narasumber di televisi swasta di Iran saat Ramadan.
Karakter Zian dikenal sederhana. Ia kadang pemalu, tetapi mudah bergaul dengan peserta dari berbagai negara. Meski terkendala bahasa, ia mampu beradaptasi dengan cepat.
Di balik kesibukan mengaji dan berlatih, Zian tetaplah anak-anak pada umumnya. Ia gemar bermain sepak bola dan bercita-cita menjadi dokter.
Sosok yang menginspirasi dirinya antara lain sang kakek, serta qori dunia seperti Syekh Musthofa Ismail, Ustaz Darwin Hasibuan, dan Ustaz Syamsuri Firdaus.
Pendidikan dan Target Hafalan 30 Juz
Ke depan, sang ayah berencana membawa Zian ke Lombok untuk menyempurnakan hafalan 30 juznya. Langkah ini diharapkan memperkuat fondasi ilmu sekaligus menjaga kualitas tilawahnya.
Dukungan keluarga dan pemerintah daerah menjadi energi tambahan bagi perjalanan Zian. Pembinaan sejak dini, konsistensi latihan, serta tradisi keluarga menjadi kunci keberhasilannya.
Lebih dari Sekadar Juara
Kisah Zian Fahrezi bukan hanya tentang trofi dan panggung internasional. Ini adalah cerita tentang pendidikan keluarga, tradisi yang dirawat lintas generasi, serta doa yang tak pernah putus.
Di usia yang masih belia, ia membuktikan bahwa batas bukan ditentukan oleh umur, melainkan oleh pembinaan, disiplin, dan keyakinan.
Dari Monggonao, Kota Bima, suara tilawah itu kini menggema hingga mancanegara. Dan perjalanan Zian, sang qori cilik internasional, baru saja dimulai.