Hal ini berdasarkan Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H.
Adapun organisasi ini menetapkan awal puasa dengan metode hisab, dimana tidak memerlukan pengamatan mata telanjang (rukyat), tetapi menggunakan penghitungan matematis posisi bulan di atas cakrawala.
Muhammadiyah juga menggunakan Parameter Kalender Global (PKG), dimana menurut hasil hisab posisi bulan sudah mencukupi syarat memasuki bulan Ramadhan tahun ini.
Baca Juga: Sidang Isbat Putuskan 1 Ramadan 1447 H Jatuh 19 Februari 2026, Hilal Tak Terlihat di Indonesia
Apakah Idul Fitri Akan Sama Hari?
PP Muhammadiyah telah memastikan bahwa lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1447 H akan jaruh pada Jumat, 20 Maret 2026. Sedangkan, untuk hari lebaran versi Kemenag saat ini masih belum ditentukan.
Jika nantinya hari raya Idul Fitri dilakukan secara bersamaan, kemungkinan puasa versi Kemenag akan berlangsung selama 29 hari.
Namun, masih ada peluang perbedaan hari lebaran jika puasa dilaksanakan selama 30 hari, yakni jatuh pada 21 Maret 2026.
Meski begitu, seperti biasa Kemenag nantinya akan kembali melakukan pemantauan hilal untuk penetapan 1 Syawal 1447 H, yang diagendakan pada 19 Maret 2026 mendatang.
Jika berdasarkan pemantauan hilal tersebut syarat hilal sudah mencukupi, maka bisa jadi Hari Raya Idul Fitri akan dilangsungkan bersamaan.
Sebaliknya, jika berdasarkan pemantauan hilal penetapan 1 Syawal syaratnya tidak mencukupi seperti penentuan 1 Ramadhan saat ini, maka kemungkinan Idul Fitri dilaksanakan beda hari.
