Di Indonesia, tradisi ini memiliki istilah berbeda di tiap daerah. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai nyekar, sedangkan masyarakat Jawa menyebutnya nyadran.
Keluarga biasanya membersihkan area makam, menaburkan bunga, membaca doa, serta memohonkan ampun bagi almarhum. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana budaya dan religiusitas berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, masyarakat juga kerap merujuk pada sejarah tempat-tempat suci. Salah satunya adalah Masjid Al Buraq, yang dikenal sebagai lokasi tempat Buraq diikat saat peristiwa Isra Miraj. Rujukan terhadap sejarah ini memperkuat pemahaman bahwa ziarah memiliki makna mendalam dalam perjalanan spiritual umat Islam.
Adab-Adab Ziarah Kubur yang Disarankan
Agar ziarah menjadi amalan yang bernilai ibadah, terdapat beberapa adab yang disunahkan untuk diamalkan. Adab ini bukan hanya aturan ritual, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan kekhusyukan dan adab seorang Muslim.
1. Berwudhu dan Meluruskan Niat
Peziarah dianjurkan berwudhu sebelum berangkat. Kesucian lahiriah ini menjadi simbol kesiapan batin untuk mendoakan keluarga yang telah wafat. “Niatkan ziarah sebagai ibadah, bukan sekadar rutinitas atau formalitas,” demikian penjelasan sejumlah ulama fikih.
2. Mengucapkan Salam kepada Penghuni Kubur
Setibanya di area pemakaman, peziarah dianjurkan mengucapkan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الْقُبُورِ يَغْفِرُ اللَّهُ لَنَا وَلَكُمْ
“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kalian.”
Salam tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus doa untuk para ahli kubur.
3. Berdoa dengan Khusyuk
Peziarah diperbolehkan berdiri atau duduk dengan tenang saat berdoa, kemudian menghadap kiblat. Salah satu doa yang dianjurkan ialah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakan dan maafkanlah dirinya.”
