Cerita serupa dialami Kevin, 31 tahun, warga Bogor. Ia tiba di lokasi pukul 04.30 WIB, namun mendapati sistem antrean yang dinilainya tidak kondusif.
Ia menyebut sudah ada daftar antrean yang dibuat sejak malam sebelumnya, diduga bukan dari pihak resmi.
Kevin sempat masuk daftar nomor 97, sementara jumlah pendaftar disebut mendekati 300 orang.
Baca Juga: Lokasi SIM Keliling Jakarta dan Tangerang Selatan Minggu, 15 Februari 2026
“Pada hari pertama pameran, nomor antrean hingga kisaran 50an saja sudah kehabisan stok, meski daftar antrean dibuka jauh lebih banyak,” ungkap Kevin.
Kevin juga menilai sistem antrean yang diulang dari awal setiap hari terasa tidak adil bagi mereka yang sudah mengantre sebelumnya namun gagal mendapatkan emas.
Baik Rizki maupun Kevin menilai persoalan utama bukan sekadar harga emas yang sedang tinggi, melainkan akses pembelian dan kejelasan aturan antrean.
Keduanya memahami stok terbatas dan tingginya minat investasi emas. Namun, mereka berharap penyelenggara dan penjual menerapkan sistem antrean yang lebih transparan dan resmi agar tidak memicu praktik daftar tidak resmi.
Cerita Berbeda di Luar Arena
Di dalam area pameran, suasana tetap semarak. Pengunjung memadati booth, berburu promo, hingga men- cari koleksi edisi terbatas. Aktivitas transaksi ritel dan kerja sama bisnis tetap berjalan dinamis.
Namun di luar arena, sebagian calon pembeli harus menelan kekecewaan karena gagal mendapatkan emas yang diincar setelah menempuh perjalanan jauh dan menunggu sejak dini hari.
Kilau emas memang selalu memikat. Di tengah tren harga yang fluktuatif dan meningkatnya minat investasi logam mulia, pameran seperti JIJF menjadi daya tarik kuat bagi masyarakat dari berbagai daerah.
