Kegiatan diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, di Gedung IDN HQ, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 6 Februari 2026. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)

JAKARTA RAYA

Ketum AMSI Soroti Minimnya Pengakuan Roehana Koeddoes, Tokoh Jurnalis Indonesia

Jumat 06 Feb 2026, 21:08 WIB

KUNINGAN, POSKOTA.CO.ID - Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika, menyoroti pentingnya penguatan kembali ingatan publik terhadap kontribusi tokoh perempuan dalam sejarah jurnalisme Indonesia, khususnya Roehana Koeddoes.

Menurut Wahyu, Roehana memiliki peran strategis dalam perjalanan sejarah pers nasional.

Perempuan kelahiran Koto Gadang, Sumatera Barat itu dikenal sebagai wartawan perempuan pertama, pemimpin redaksi perempuan pertama, sekaligus pendiri surat kabar khusus perempuan di Indonesia.

Sayangnya, saat ini sosoknya dinilai belum banyak dikenal secara luas, bahkan di kalangan jurnalis sendiri.

Baca Juga: Racun Pembunuh Satu Keluarga di Warakas Jakut Terungkap

“Yang sangat menginspirasi dari Bu Roehana Koeddoes ini adalah peran-peran pentingnya meletakkan dasar-dasar jurnalisme di Indonesia,” ujar Wahyu, dalam diskusi 3 Wajah Roehana Koeddoes, di Gedung IDN HQ, Kuningan, Jakarta Selatan pada Jumat, 6 Februari 2026.

Dalam diskusi itu, Wahyu juga menilai masih diperlukan upaya sosialisasi yang lebih masif agar peran tokoh perempuan dalam sejarah pers mendapat perhatian yang seimbang.

Selain itu, Wahyu juga menyoroti dominasi laki-laki yang masih kuat di industri media, terutama pada posisi kepemimpinan redaksi.

Jumlah pemimpin redaksi perempuan disebut masih sangat terbatas dibandingkan total media yang ada di Indonesia.

Baca Juga: Satres PPA-PPO Dibentuk untuk Tekan Angka Tindak Pidana Perempuan dan Anak di Bogor

“Kalau bicara wartawan, pemimpin redaksi perempuan bisa dihitung jari. Dibandingkan total media di Indonesia, jumlahnya masih belum berimbang,” beber Wahyu.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan salah satu penyebab ketimpangan tersebut adalah ruang redaksi yang belum sepenuhnya aman bagi jurnalis perempuan.

Ia menjelaskan bahwa AMSI baru beberapa tahun terakhir memiliki standar operasional prosedur (SOP) perlindungan terhadap kekerasan seksual.

Sebelumnya, banyak kasus yang ditangani secara sporadis dan tertutup, sehingga korban kerap merasa tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

Baca Juga: Lonjakan Angkatan Kerja Picu Pengangguran, Pemprov DKI Genjot Pelatihan dan Job Fest

“Kita perlu segera menguatkan kembali memori publik tentang peran perempuan di jurnalisme Indonesia, sekaligus menciptakan ruang redaksi yang lebih aman agar perempuan bisa berkarier,” beber Wahyu.

Di tengah tantangan industri media, Wahyu menilai kontribusi perempuan sangat dibutuhkan, terutama untuk memperkuat integritas, etika, dan kredibilitas pers.

Ia berharap berbagai upaya perlindungan serta peningkatan kesadaran sejarah jurnalisme perempuan dapat mendorong terciptanya lingkungan kerja media yang lebih inklusif dan seimbang di masa depan. (man)

Tags:
Asosiasi Media Siber Indonesiajurnalis perempuan pertama di Indonesiajurnalis perempuanjurnalisme perempuanjurnalisRoehana KoeddoesAMSI

Ali Mansur

Reporter

Muhammad Faiz Sultan

Editor