JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Menjelang perayaan Imlek dan memasuki bulan suci Ramadhan, harga bawang merah di Pasar Senen, Jakarta Pusat mengalami kenaikan.
Meski begitu, para pedagang menilai lonjakan harga yang terjadi ini bukan dikarenakan momentum hari besar keagamaan, tetapi disebabkan faktor cuaca dan hambatan distribusi dari daerah sentra produksi.
Salah satu pedagang bawang di Pasar Senen, Arif, 40 tahun mengatakan, kenaikan harga sudah mulai terasa sejak beberapa waktu terakhir. Menurutnya, pola kenaikan harga bawang merah juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya ketika memasuki musim penghujan yang mengganggu masa panen.
“Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, kalau ada kenaikan itu bukan karena Imlek atau Idulfitri, tapi karena cuaca. Sekarang ini di daerah Jawa yang biasa panen lagi musim hujan, jadi panennya terganggu,” ujar Arif kepada Poskota, Rabu, 4 Februari 2026.
Baca Juga: Persiapan Imlek, Warga Luar Jakarta Mampir Beli Pernak-Pernik ke Petak Sembilan
Arif menjelaskan, curah hujan tinggi yang terjadi di awal 2026 juga membuat kualitas bawang menurun sehingga banyak petani menunda panen. Hal ini berdampak langsung kepada pasokan bawang di Jakarta, karena petani menahan barang agar tidak merugi akibat hasil panen yang buruk.
“Cuacanya tidak mendukung buat panen. Bawangnya kualitasnya kurang bagus, jadi banyak yang menunda panen. Kiriman ke sini berkurang. Daripada dipanen hasilnya jelek, ditahan dulu sama petani,” ucap Arif.
Lebih lanjut, Arif menyampaikan bahwa mayoritas pasokan bawang yang masuk ke Pasar Senen saat ini berasal dari wilayah Jawa Timur dan Madura.
Meskipun ada tambahan kiriman stok bawang, namun jumlah yang ada saat ini belum cukup untuk menekan harga kembali normal.
Baca Juga: Pemotor Tewas Ditabrak Angkot Jaklingko di Cilandak
Di sisi lain, harga beli bawang merah di tingkat pedagang saat ini sudah mulai naik cukup tajam dibandingkan sebelumnya.
Jika sebelumnya modal berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram, kini naik menjadi sekitar Rp35 ribu per kilogram.
“Modal saya tadinya Rp25 ribu sampai Rp28 ribu, sekarang di angka Rp35 ribu per kilo. Itu baru modal ya,” ucapnya.
Dengan kenaikan modal tersebut, harga jual ke konsumen ikut terdongkrak di kisaran Rp40 ribu per kilogram. Sebelumnya, harga jual bawang merah masih berada di rentang Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Baca Juga: Jelang Imlek dan Ramadhan, Harga Daging Sapi Naik Tembus Rp140 Ribu per Kilogram
Sementara itu, Arif menyebut momen hari besar seperti Imlek dan Idulfitri tidak selalu berdampak langsung terhadap kenaikan harga komoditas bawang. Pada beberapa kasus, harga bisa saja turun apabila jalur distribusi lancar, serta konsumsi yang menurun akibat banyak warga bepergian ke luar kota.
“Kalau pengiriman lancar dan cuaca bagus, kadang malah turun harganya. Soalnya saat Imlek atau Lebaran banyak orang liburan, konsumsi di Jakarta justru turun,” ungkap Arif.
Selain faktor cuaca, hambatan distribusi juga dipengaruhi situasi lalu lintas dan keamanan. Menurutnya, aksi demo atau kemacetan kerap membuat pengirim ragu mengirim barang ke Jakarta karena khawatir terjebak macet dan menambah biaya angkut.
“Kalau ada demo atau macet, pengirim suka takut kirim ke Jakarta. Takut kejebak di jalan, biaya bisa dobel,” katanya.
Sementara itu, harga bawang putih relatif lebih stabil karena daya tahan barang lebih lama dan bisa disimpan. Meski sempat naik, pergerakannya tidak setajam bawang merah.
Modal bawang putih sebelumnya berada di kisaran Rp27 ribu hingga Rp28 ribu per kilogram, sempat naik ke Rp30 ribu, lalu kembali turun ke sekitar Rp27-Rp28 ribu. Untuk harga jual, bawang putih dipasarkan di kisaran Rp33 ribu hingga Rp37 ribu per kilogram, tergantung kualitas. (cr-4)