Para Tatung yang diyakini dirasuki roh leluhur atau dewa, melakukan berbagai atraksi spiritual dalam arak-arakan yang menarik perhatian ribuan pengunjung.
2. Tradisi Ruwat Bumi
Di Salatiga, Jawa Tengah, Cap Go Meh dirayakan melalui tradisi Ruwat Bumi. Tradisi ini mencerminkan wujud rasa syukur sekaligus doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari bencana dan diberi keberkahan.
Ruwat Bumi menjadi contoh kuat akulturasi budaya Tionghoa dengan kearifan lokal Jawa.
3. Arak-arakan Sipasan serta Kio
Di Kota Padang, Sumatera Barat, perayaan Cap Go Meh identik dengan arak-arakan Sipasan dan Kio.
Berdasarkan informasi dari situs resmi Pemerintah Kota Padang, Sipasan merupakan kendaraan berbentuk menyerupai lipan, sementara Kio adalah tandu atau patung yang melambangkan dewa maupun leluhur.
Arak-arakan Sipasan dan Kio biasanya diikuti oleh masyarakat keturunan Tionghoa dengan diiringi tarian naga dan kesenian tradisional lainnya.
Prosesi ini berlangsung dengan rute beberapa kilometer yang melintasi pusat kota Padang, sekaligus menjadi tontonan budaya yang menarik minat masyarakat luas.
4. Festival Jappa Jokka
Di Makassar, Sulawesi Selatan, puncak perayaan Cap Go Meh dikenal dengan Festival Jappa Jokka.
Mengutip situs resmi PPID Makassar, Jappa Jokka merupakan bentuk karnaval budaya yang digelar sebagai penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek.
Sebelum dikenal dengan nama tersebut, tradisi ini lebih dulu dikenal sebagai Pasar Malam Cap Go Meh dan pertama kali digelar pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
5. Tradisi Ziarah di Palembang
Di Palembang, Sumatera Selatan, perayaan Cap Go Meh kerap diwarnai dengan kegiatan ziarah ke Pulau Kemaro.
Klenteng Hok Tjing Rio menjadi pusat aktivitas ritual dan doa bagi masyarakat keturunan Tionghoa, khususnya pemeluk agama Konghucu.
