JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Genangan banjir setinggi sekitar 210 sentimeter yang melanda kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, akibat hujan deras dan luapan Kali Ciliwung mulai berangsur surut.
Meski demikian, berdasarkan pantauan Poskota di lokasi, sejumlah rumah di bantaran sungai masih terendam air setinggi sekitar 25 sentimeter.
Bagi warga setempat, banjir kali ini bukan kejadian pertama. Sepanjang Januari 2026, banjir berulang kali merendam permukiman. Sebagian warga mencatat banjir terjadi hingga empat kali dalam satu bulan terakhir.
Baca Juga: PMI Kota Depok Kirim Relawan ke Lokasi Longsor Pasirlangu Bandung Barat
Maman, 61 tahun, warga yang tinggal di Kampung Melayu sejak 1980, mengaku hampir satu bulan terakhir harus hidup berdampingan dengan banjir. Ia menyebut selama Januari banjir terjadi empat kali, dengan dua di antaranya tergolong besar.
“Yang besar dua kali. Yang kemarin itu paling parah, air sampai sekitar 270 sentimeter, lebih dari dua meter,” ujar Maman, Sabtu, 31 Januari 2026.
Ia mengatakan banjir besar terakhir datang dengan cepat. Air mulai masuk ke permukiman sekitar pukul 00.00 WIB dan terus meninggi hingga mencapai puncak sekitar pukul 03.00 WIB.
Meski air meluap tinggi, Maman memilih tidak mengungsi. Ia bersama keluarganya bertahan di lantai dua dan tiga rumah.
“Saya mengungsi di atas saja, kebetulan rumah punya lantai dua dan tiga. Barang-barang juga sudah diantisipasi, dari banjir pertama sudah dipindahkan ke atas,” ucapnya.
Maman yang tinggal bersama enam anggota keluarga mengaku sempat menerima bantuan, salah satunya berupa beras dari pihak kepolisian. Namun, banjir tetap berdampak pada kesehatan warga.
“Biasanya diare sama gatal-gatal. Kalau sakit ya berobat ke puskesmas saja,” katanya.
Puluhan tahun tinggal di wilayah rawan banjir membuat Maman mengaku lelah menghadapi kondisi yang terus berulang. Rumahnya termasuk dalam kawasan terdampak rencana normalisasi Kali Ciliwung dan telah didata pemerintah.
“Kalau memang mau digusur ya sudah, capek banjir terus,” ucapnya.
Baca Juga: BMKG Minta Warga Waspadai Cuaca Ekstrem jelang Peralihan Musim
Maman menyebut warga bantaran sungai sudah terbiasa menghadapi banjir. Saat banjir besar, aparat kepolisian kerap membantu evakuasi menggunakan perahu, terutama bagi warga yang tidak bisa berenang.
Hal serupa dialami Ahmad, 60 tahun, warga Kampung Melayu yang telah tinggal di kawasan tersebut sejak kecil. Ia memperkirakan banjir terakhir merendam rumahnya hingga sekitar dua meter lebih.
“Air mulai naik sekitar Jumat pagi jam empat. Surutnya baru semalam,” kata Ahmad.
Selama Januari, Ahmad mencatat banjir terjadi sedikitnya empat kali, dengan dua di antaranya merupakan banjir besar.
"Ini yang terparah, biasanya sepinggang," ujarnya.
Ahmad juga memilih bertahan di rumah dan menunggu air surut di lantai atas bersama keluarganya. Ia menyebut sebagian besar perabotan sudah diamankan sehingga tidak mengalami kerusakan berarti.
“Barang-barang sudah dipindahkan semua, jadi tidak ada yang rusak,” katanya.
Meski banjir datang hampir setiap tahun, Ahmad mengaku belum berencana pindah. Ia hanya mendengar kabar normalisasi Kali Ciliwung kemungkinan dilakukan setelah Lebaran.
“Katanya habis Lebaran mau ada normalisasi, tapi belum tahu juga,” ucapnya. (cr-4)