Elon Musk mengkritik keamanan WhatsApp. (Sumber: X/elonmusk)

TEKNO

WhatsApp Disebut Tidak Aman oleh Elon Musk dan Pavel Durov, Meta Beri Bantahan

Jumat 30 Jan 2026, 18:32 WIB

POSKOTA.CO.ID - Isu keamanan privasi aplikasi pesan instan kembali menjadi sorotan global setelah dua tokoh besar teknologi dunia, Elon Musk dan CEO Telegram Pavel Durov mengkritik terhadap WhatsApp.

Sorotan ini tidak muncul tanpa sebab. Kritik terhadap WhatsApp beriringan dengan bergulirnya gugatan class action terhadap Meta Platforms di Amerika Serikat, yang menuding adanya potensi celah keamanan sistem WhatsApp percakapan yang selama ini diklaim terenkripsi end-to-end.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran publik soal perlindungan data pribadi, pernyataan Elon Musk dan Pavel Durov semakin memperkeruh diskusi tentang sejauh mana aplikasi pesan populer benar-benar mampu menjaga kerahasiaan komunikasi penggunanya.

Baca Juga: Sejumlah Negara Perketat Kewaspadaan Terhadap Virus Nipah, Ini Gejala yang Harus Diwaspadai

Pernyataan Elon Musk Soal WhatsApp dan Signal

Elon Musk pertama kali memicu polemik setelah mengutip unggahan berisi laporan Bloomberg mengenai gugatan hukum terhadap Meta. Dalam unggahannya di platform X pada Selasa 27 Januari 2026, Musk menyampaikan kritik keras terhadap keamanan WhatsApp, bahkan menyeret nama aplikasi Signal.

“WhatsApp tidak aman. Bahkan Signal pun diragukan. Gunakan X Chat,” tulis Elon Musk melalui akun X @elonmusk, dikutip Poskota, pada 30 Januari 2026.

Pernyataan tersebut kembali ditegaskan Musk dalam unggahan lain yang menyebut, "WhatsApp enggak aman. Bahkan Signal sekalipun dipertanyakan (keamanannya). Pakai X Chat," tulis Musk.

Selain mengkritik, Musk juga memanfaatkan momentum ini untuk mempromosikan X Chat, fitur pesan terbaru di platform X yang menggantikan sistem direct message sebelumnya.

Pavel Durov Klaim Temukan Celah Enkripsi WhatsApp

Pavel Durov menyoroti dugaan celah keamanan WhatsApp. (Sumber: X/@Chhaviiee)

CEO Telegram Pavel Durov menyatakan sependapat dengan Musk. Ia mengklaim hasil analisis teknis timnya menunjukkan adanya kelemahan dalam penerapan enkripsi WhatsApp.

“Ketika kami menganalisis bagaimana WhatsApp menerapkan enkripsi, kami menemukan beberapa celah keamanan,” tulis Durov melalui resmi X miliknya @durov.

Pernyataan Durov tersebut kemudian mendapat respons singkat dari Elon Musk yang membalas, “benar”, menandakan kesamaan pandangan antara keduanya.

Dalam pernyataan lain yang lebih tajam, Durov bahkan menuliskan, “Anda benar-benar bodoh jika percaya WhatsApp aman di 2026. Ketika kami menganalisis bagaimana WhatsApp menerapkan ‘enkripsinya’, kami menemukan banyak celah serangan,” tulis Durov.

Meski demikian, Durov tidak memaparkan secara rinci detail teknis celah keamanan yang dimaksud ke publik.

Baca Juga: Kenapa Rial Iran Lemah? Ini Faktor Pemicu hingga Bikin Rupiah Bernilai Fantastis

Gugatan Class Action Terhadap Meta di AS

Kritik Musk dan Durov muncul bersamaan dengan gugatan class action yang diajukan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat di San Francisco. Gugatan tersebut menuding Meta diam-diam memiliki kemampuan mengakses, menyimpan, dan menganalisis sebagian isi percakapan WhatsApp, meskipun layanan itu mengklaim menggunakan enkripsi end-to-end.

Para penggugat berasal dari berbagai negara, termasuk India, Brasil, Australia, Meksiko, dan Afrika Selatan. Mereka mencurigai adanya sistem internal Meta yang memungkinkan akses pesan pengguna melalui User ID tertentu di seluruh ekosistem Meta.

Dokumen gugatan juga menyebut dugaan keberadaan “pintu belakang” yang memungkinkan pesan pengguna dibaca, termasuk pesan yang telah dihapus.

Baca Juga: Eropa Kirim Pasukan ke Greenland, Ketegangan Geopolitik dengan Amerika Serikat Kian Meningkat

Bantahan Keras WhatsApp dan Meta

Menanggapi tudingan tersebut, Head of WhatsApp Will Cathcart langsung memberikan bantahan tegas. Ia menyatakan bahwa WhatsApp tidak memiliki akses untuk membaca pesan pengguna.

"(Tuduhan) ini teramat sangat salah. WhatsApp tak bisa membaca pesan karena kunci enckripsi disimpan (stored) di ponsel Anda, dan kami tidak punya akses untuk membukanya," bantah Cathcart.

Ia juga menilai gugatan tersebut tidak berdasar dan hanya bertujuan mencari perhatian publik.

"Ini adalah gugatan yang tidak memiliki dasar kuat dan hanya ingin mendapat sorotan media, diajukan oleh perusahaan yang sama yang pernah membela NSO, setelah spyware mereka digunakan untuk menyerang jurnalis dan pejabat pemerintah," imbuh Cathcart.

Pernyataan serupa juga disampaikan juru bicara Meta, Andy Stone, yang menegaskan bahwa WhatsApp telah menggunakan Signal Protocol selama lebih dari satu dekade.

“Setiap klaim yang menyebut pesan WhatsApp tidak dienkripsi adalah sepenuhnya salah. Gugatan ini adalah fiksi yang sembrono,” ujar Stone.

Perseteruan antara Elon Musk, Pavel Durov, dan Meta menunjukkan bahwa isu privasi digital masih menjadi topik sensitif. Di tengah persaingan platform pesan instan, klaim keamanan dan kepercayaan pengguna menjadi faktor krusial yang terus diperdebatkan secara terbuka.

Tags:
Metaperlindungan data pribadiMeta Platformsgugatan class actionWhatsApp Pavel DurovElon Musk Telegram CEO Telegram

Aldi Harlanda Irawan

Reporter

Aldi Harlanda Irawan

Editor