CIBINONG, POSKOTA.CO.ID – Pemkab Bogor mencatat Kecamatan Sukamakmur dan Jongol sebagai wilayah dengan intensitas bencana tertinggi dalam sepekan terakhir akibat hujan berintensitas tinggi.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan, kedua wilayah tersebut memiliki kontur geologi yang rawan pergerakan tanah.
“Secara geologi area yang paling rawan pergerakan tanah sering terjadi, kalau kita lihat di situ, plus sekarang hujan jadi akhirnya secara frekuensi mudah sekali untuk terjadi gejala bencana skala kecil maupun besar,” kata Ajat kepada wartawan, Jumat, 30 Januari 2026.
Baca Juga: Tawuran di Green Garden Tewaskan Pelajar, Polres Jakbar Tangkap 10 Remaja
Ajat menyebut, Pemkab Bogor mengantisipasi dampak lanjutan dengan mengimbau warga di kawasan rawan seperti perbukitan dan bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan saat hujan lebat.
“Kita mengimbau seluruh masyarakat terutama di area yang cukup kritis berdampak, akan terkena dampak seperti pinggir kali pinggir setu, tebingan, kita perlu tingkatkan kewaspadaan,” jelas Ajat.
“Ada area-area yang memang area rawan pergerakan tanah, kita minta masyarakat bisa mengakses informasi yang ditayangkan oleh kami bisa di 112, BPBD. Saya kira kewaspadaan itu dengan kemudahan akses teknologi bisa membantu mempercepat informasi sampai ke masyarakat,” sambungnya.
Sebelumnya, pergeseran tanah terjadi di Kampung Nanggerang, Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, pada Kamis, 29 Januari 2026.
Sebanyak 15 rumah terdampak, dengan rincian tiga rumah rusak berat, lima rumah rusak sedang, dan tujuh rumah rusak ringan.
“Dikarenakan intensitas hujan yang cukup deras di wilayah tersebut sehingga mengakibatkan pergeseran tanah,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor Adam Hamdani saat dikonfirmasi, Jumat, 30 Januari 2026.
Untuk mengantisipasi pergerakan tanah susulan, sebanyak 51 warga di lokasi tersebut diungsikan dan didirikan tenda pengungsian oleh pihak Kecamatan Sukamakmur.
