POSKOTA.CO.ID - Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang memiliki keutamaan khusus dalam kalender Hijriah. Letaknya yang berada di antara dua bulan mulia, Rajab dan Ramadhan, kerap membuatnya luput dari perhatian sebagian umat Islam.
Padahal, para ulama sejak generasi salaf hingga khalaf menaruh perhatian besar terhadap bulan ini sebagai fase penting persiapan spiritual sebelum memasuki Ramadhan.
Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds Al-Makki (wafat 1335 H) menegaskan bahwa Sya’ban termasuk bulan yang dimuliakan dan sarat keberkahan. Dalam karyanya Kanzun Najah wa As-Surur, ia menjelaskan bahwa tobat dan ketaatan yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai keuntungan besar di sisi Allah SWT.
“Sya’ban adalah bulan yang dimuliakan, keberkahannya masyhur, dan kebaikannya melimpah. Tobat di dalamnya termasuk keuntungan saleh yang paling besar, sedangkan ketaatan di dalamnya merupakan perdagangan yang paling menguntungkan,” tulis Syekh Abdul Hamid Quds Al-Makki (Kanzun Najah wa As-Surur, Beirut: Dar Al-Hawi, h. 149).
Ia menambahkan, siapa pun yang membiasakan diri bersungguh-sungguh beribadah di bulan Sya’ban akan menuai keberhasilan pada bulan Ramadhan, karena kebiasaan baik tersebut telah terbentuk sebelumnya.
Baca Juga: Ramadan 2026 Makin Dekat, Puasa Diprediksi Mulai Pertengahan Februari
Sya’ban sebagai Bulan Persiapan Ruhani Menjelang Ramadhan
Dalam tradisi keilmuan Islam, Sya’ban dipahami sebagai masa transisi dan latihan spiritual. Banyak ulama menyebut bulan ini sebagai “arena perlombaan waktu”, tempat seorang hamba menata kembali kualitas iman, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, dan membersihkan hati sebelum Ramadhan tiba.
Karena itu, para ulama memberikan tuntunan amalan-amalan utama yang dianjurkan untuk diperbanyak selama Sya’ban. Amalan ini tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai pembiasaan agar ibadah Ramadhan dapat dijalani dengan lebih ringan dan konsisten.
4 Amalan Utama yang Dianjurkan pada Bulan Sya’ban
1. Memperbanyak Puasa Sunnah
Puasa sunnah merupakan amalan paling menonjol pada bulan Sya’ban. Hal ini merujuk langsung pada teladan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Bulan yang paling dicintai Rasulullah SAW untuk berpuasa adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungkannya dengan Ramadhan.” (HR Abu Dawud)
Syekh Abdurrauf Al-Munawi (wafat 1031 H) menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan puasa sunnah paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Sya’ban (Faid Al-Qadir, vol. 5, h. 84).
Penegasan ini diperkuat oleh riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Sayyidah Aisyah RA yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW hampir berpuasa sepanjang bulan Sya’ban. Praktik ini menegaskan kemuliaan Sya’ban sebagai sarana latihan fisik dan spiritual sebelum kewajiban puasa Ramadhan.
2. Memperbanyak Membaca Alquran
Selain puasa, Sya’ban juga dikenal sebagai bulan Alquran. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali (wafat 795 H) mencatat bahwa banyak ulama salaf memanfaatkan Sya’ban untuk meningkatkan intensitas tilawah.
“Dahulu dikatakan bahwa Sya’ban adalah bulannya para pembaca Alquran,” tulis Ibn Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, h. 154).
Membaca Alquran pada bulan Sya’ban dipahami sebagai bentuk penyambutan terhadap Ramadhan, bulan diturunkannya Alquran. Tradisi ini menunjukkan bahwa persiapan Ramadhan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga ruhani dan intelektual.
3. Memperbanyak Shalawat kepada Nabi SAW
Sya’ban juga dikenal sebagai bulan shalawat. Para ulama menyebut bahwa ayat perintah bershalawat kepada Nabi SAW dalam QS Al-Ahzab ayat 56 diturunkan pada bulan Sya’ban.
Syekh Abdul Hamid Quds Al-Makki menegaskan pentingnya memperbanyak shalawat, khususnya pada bulan ini yang dinisbatkan sebagai “bulan Nabi SAW”.
“Perbanyaklah shalawat kepada Nabi SAW di setiap waktu, terlebih pada bulan Nabimu, yaitu Sya’ban,” tulisnya (Kanzun Najah wa As-Surur, h. 150).
Dengan bershalawat, seorang Muslim meneguhkan kecintaannya kepada Rasulullah SAW sekaligus berharap limpahan rahmat dan syafaat beliau.
Baca Juga: Puasa Nisfu Syaban Berapa Hari dan Mulai Kapan? Catat Tanggal dan Bacaan Niatnya
4. Memperbanyak Istighfar
Amalan penting lainnya adalah memperbanyak istighfar. Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (wafat 1425 H) menegaskan bahwa istighfar merupakan zikir paling utama untuk diperbanyak pada waktu-waktu yang dimuliakan, termasuk Sya’ban dan malam Nisfu Sya’ban (Madza fi Sya’ban, h. 57).
Melalui istighfar, seorang hamba memohon ampunan atas dosa-dosanya sekaligus membersihkan hati. Dengan hati yang lebih bersih, seorang Muslim diharapkan mampu memasuki Ramadhan dengan kesiapan iman dan mental yang lebih baik.
Secara keseluruhan, bulan Sya’ban merupakan fase persiapan yang sangat bernilai sebelum Ramadhan. Puasa sunnah, tilawah Alquran, shalawat, dan istighfar bukan sekadar amalan temporer, melainkan sarana membangun kebiasaan ibadah yang berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan Sya’ban sebaik mungkin, seorang Muslim diharapkan dapat menyambut Ramadhan dalam keadaan iman dan amal yang lebih matang. Wallāhu a‘lam bis shawāb.
