Ilustrasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah DKI Jakarta. (Sumber: BPBD DKI Jakarta)

JAKARTA RAYA

Pelaksanaan OMC Efektif Tekan Cuaca Ekstrem di Wilayah DKI Jakarta

Rabu 21 Jan 2026, 22:32 WIB

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) disebut berhasil untuk menekan cuaca ekstrem di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Kapusdatin BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan menyebut bahwa pelaksanaan OMC sangat efektif mengantisipasi kondisi banjir lebih buruk.

"Hari ini tuh puncaknya cuaca ekstrem, kalau enggak ada OMC, mungkin bisa lebih buruk dari banjir yang terjadi pada 16 Januari kemarin," ujar Yohan kepada Poskota, Rabu, 21 Januari 2026.

Baca Juga: Harga Cabai di Pasar Tradisional Hari Ini Turun, Pedagang Prediksi Kenaikan Pada Awal Ramadan

Yohan menambahkan, pada puncak pelaksanaan OMC di wilayah DKI Jakarta hari ini ada tujuh penerbangan yang dilakukan BPBD dan BNPB.

"Jadi hari ini ada tujuh penerbangan, dilakukan oleh BPBD dan juga BNPB," katanya.

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan berdasarkan hasil pemantauan serta analisis meteorologi yang dilakukan secara berkelanjutan, sebagai bagian dari upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang berisiko terjadi di wilayah DKI Jakarta dan daerah sekitarnya.

“Operasi Modifikasi Cuaca dilaksanakan berdasarkan pemantauan dan analisis meteorologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem yang dapat berdampak pada wilayah padat penduduk seperti Jakarta dan sekitarnya,” ucap dia.

Baca Juga: Harga Tembus Rp150 Ribu Per Kilogram, Pedagang Daging Sapi Se-Jabodetabek Mogok Berjualan

OMC Hari Keenam Melalui Tiga Sorti

Pelaksanaan OMC hari keenam dilakukan melalui tiga sorti penerbangan pesawat CASSA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma. Operasi ini dilaksanakan melalui koordinasi antara BPBD Provinsi DKI Jakarta, BNPB, BMKG, dan TNI AU.

Pada sorti pertama, penyemaian awan difokuskan di wilayah overhead Perairan Selat Sunda. Penerbangan dilakukan pada ketinggian 10.000-11.000 kaki dengan target awan Cumulus Mediocris yang memiliki base sekitar 5.000 kaki dan top hingga 12.000 kaki.

Penyemaian menggunakan 800 kilogram Natrium Klorida (NaCl) dengan tujuan meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan Jabodetabek agar presipitasi terkonsentrasi di perairan.

Pada saat penyemaian, angin bertiup dominan dari arah barat laut dan teridentifikasi kejadian presipitasi pada posisi 272 derajat/92 nautical mile.

Baca Juga: 2 Ribu Warga Terdampak Penutupan Tambang Bakal Terima Uang Kompensasi dari Pemprov Jabar

Sorti kedua dilaksanakan pada siang hari dengan area semai overhead Perairan Selat Sunda pada radial 250-300 dan jarak 80-110 nautical mile dari Halim.

Penerbangan dilakukan pada ketinggian 8.000-12.000 kaki dengan bahan semai NaCl sebanyak 800 kilogram. Sorti ini bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan di wilayah perairan barat agar hujan tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta.

Selanjutnya, sorti ketiga difokuskan pada wilayah overhead Kabupaten Bekasi. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000-7.000 kaki dengan menggunakan 800 kilogram Kalsium Oksida (CaO).

Upaya ini ditujukan untuk menekan intensitas awan hujan di wilayah timur yang berpotensi mempengaruhi kondisi cuaca di DKI Jakarta.

Deputi Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyampaikan bahwa kondisi atmosfer pada hari ini menunjukkan potensi cuaca yang lebih ekstrem.

“Hari ini, 21 Januari, prediksi cuaca lebih ekstrem dibandingkan tanggal 12 dan 18 Januari lalu pada saat terjadinya banjir di Jakarta,” kata dia.

Lebih lanjut, ia menyampaikan, berdasarkan prakiraan cuaca ke depan, risiko masih berada pada kategori menengah sehingga pelaksanaan OMC sementara direncanakan hingga 22 Januari 2026. (pan)

Tags:
Mohamad YohanBNPBBPBDJakartacuaca ekstremDKI Jakarta Operasi Modifikasi Cuaca OMC

Pandi Ramedhan

Reporter

Muhammad Faiz Sultan

Editor