Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. (Sumber: Instagram/@purbayayudhi.official)

EKONOMI

Menkeu Purbaya Yakin Pelemahan Rupiah Bisa Diatasi Cepat, Ini Penyebabnya

Rabu 21 Jan 2026, 14:29 WIB

POSKOTA.CO.ID - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) sebenarnya dapat diatasi dalam waktu relatif singkat.

Ia bahkan mengklaim memahami secara menyeluruh penyebab tekanan yang dialami rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, Purbaya menegaskan dirinya tidak bisa bertindak lebih jauh karena kebijakan nilai tukar sepenuhnya menjadi kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas bank sentral.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat ditemui awak media di lingkungan Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa 20 Januari 2026. Ia menyebut, jika memiliki kewenangan, proses pemulihan rupiah bisa dilakukan hanya dalam hitungan dua hari dua malam.

Baca Juga: Purbaya Ungkap Wacana Tukar Posisi Wamenkeu dan Deputi Gubernur BI

Kewenangan Penanganan Rupiah Ada di Bank Indonesia

Menurut Purbaya, meskipun memahami akar persoalan pelemahan kurs, dirinya tidak bisa melakukan intervensi langsung. Ia menekankan bahwa pengelolaan nilai tukar merupakan ranah Bank Indonesia, bukan Kementerian Keuangan.

Ia juga mengarahkan agar pertanyaan teknis terkait kebijakan nilai tukar diajukan langsung kepada otoritas moneter. Hal ini sekaligus menegaskan pemisahan peran antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter di Indonesia.

Baca Juga: Purbaya Bertemu Juda Agung, Kursi Wamenkeu Segera Berganti? Ini Sinyal yang Menguat

Pelemahan Rupiah Dinilai Masih Terkendali

Purbaya menilai pelemahan rupiah saat ini masih dalam batas wajar jika dilihat secara tahunan. Ia menyebut depresiasi rupiah berada di kisaran 2 hingga 3 persen, angka yang menurutnya masih dapat dikendalikan.

Lebih jauh, ia menyampaikan bahwa kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional tetap terjaga. Fondasi ekonomi Indonesia dinilai terus membaik, meskipun nilai tukar sedang mengalami tekanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar masih menaruh keyakinan terhadap prospek ekonomi jangka menengah dan panjang.

Faktor Eksternal Tekan Nilai Tukar Rupiah

Purbaya memaparkan bahwa faktor global turut berkontribusi besar terhadap pelemahan rupiah. Salah satunya adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dan sejumlah negara maju yang masih menahan suku bunga acuan pada level tinggi. Kondisi tersebut mendorong arus modal kembali ke Amerika Serikat dan meningkatkan permintaan dolar AS.

Selain itu, ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah seperti Iran, turut memicu kenaikan harga minyak dunia. Situasi ini berdampak pada tekanan tambahan terhadap nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga: Strategi Menkeu Purbaya Perkuat Ekonomi Indonesia di Tengah Pelemahan Rupiah

Faktor Internal Jadi Sorotan Investor

Dari sisi domestik, Purbaya mengakui adanya sentimen negatif yang muncul akibat kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Defisit fiskal yang melebar dinilai menjadi perhatian investor karena memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pengelolaan keuangan negara.

Belanja negara yang dinilai tinggi tidak diimbangi dengan penerimaan yang kuat turut memperkuat persepsi negatif pasar. Selain itu, peningkatan utang pemerintah juga disebut berpotensi menekan kondisi fiskal dan mengurangi ruang pembangunan ke depan.

Purbaya menegaskan bahwa akumulasi utang yang tidak dikelola dengan baik dapat menghambat kinerja fiskal dan menjadi faktor yang memengaruhi kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Tags:
Bank Indonesiadolar ASpelemahan nilai tukar rupiahPurbayaPurbaya Yudhi Sadewa Menteri KeuanganMenkeu

Aldi Harlanda Irawan

Reporter

Aldi Harlanda Irawan

Editor