JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem yang berisiko memicu banjir di wilayah ibu kota.
Gubernur Jakarta Pramono Anung, menjelaskan bahwa OMC telah dilaksanakan sejak 15 Januari dan akan berlangsung hingga 22 Januari 2026.
Lebih lanjut pada Minggu, 18 Januari 2026 dilakukan hingga tiga kali penerbangan untuk menyemai awan.
"Sebenarnya operasi modifikasi cuaca di Jakarta ini sudah kita lakukan sejak tanggal 15 Januari sampai dengan 22 Januari 2026. Kemarin, hari Minggu sampai tiga kali penerbangan," ucap Pramono di Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 19 Januari 2026.
Baca Juga: Mati Listrik 7 Hari di Indonesia, Apakah Benar atau Hoaks? Ini Fakta Sebenarnya dan Penjelasan PLN
Ia mengungkapkan, pada Minggu sore kondisi langit Jakarta sudah sangat pekat sejak pukul 14.00 hingga 15.00 WIB.
Melihat potensi hujan lebat, Pramono mengaku langsung memerintahkan pelaksanaan OMC secara intensif.
"Kebetulan saya perintahkan secara langsung, karena Jakarta sudah pekat sekali ketika sore dari pukul 15.00 WIB, pukul 14.00 WIB itu kan sudah pekat sekali," ujar Pramono.
Pramono mengatakan hari ini cuaca di Jakarta cerah akibat dari dilakukannya OMC tersebut.
"Alhamdulillah ya sekarang kan modifikasi cuaca itu sudah secara ilmiah. Sehingga dengan demikian modifikasi cuaca dilakukan dan akhirnya menjadi terang-benderang, tidak ada hujan," kata Pramono.
8 Titik Pengukuran Curah Hujan di Jakarta

Di wilayah Jakarta terdapat delapan titik pengukuran curah hujan, utamanya di Jakarta Utara.
Pramono mengatakan dari delapan titik tersebut rata-rata curah hujan mencapai 260 milimiter bahkan tercatat hingga 280 milimeter.
"Di Jakarta Utara ada delapan titik untuk menghitung curah hujan itu rata-rata 260. Ada bahkan yang sampai dengan 280 dan itu tertinggi yang pernah saya ketahui selama saya menjabat sebagai Gubernur Jakarta," ucapnya.
Pramono mengaku kekhawatiran terbesarnya adalah apabila hujan ekstrem kembali terjadi seperti pada hari sebelumnya, terutama pada Sabtu dan Minggu.
"Yang saya khawatirkan kalau ada hujan kembali seperti di satu hari sebelumnya, terutama hari Sabtu dan Minggu di mana curah hujannya itu belum pernah terjadi," ungkap Pramono.
Meski demikian, Pramono menegaskan dirinya tidak mengeluhkan kondisi tersebut karena penanganan banjir sudah menjadi tanggung jawab pemerintah.
"Tapi apapun saya tidak mengeluh terhadap hal itu, karena itu sudah menjadi tanggung jawab untuk bagaimana penanganannya dan alhamdulillah per tadi pagi itu semua sudah tidak ada yang terdampak lagi," tuturnya.
Baca Juga: Seperti Apa Jam Kerja Dapur Program Makan Gratis? Ini Pembagian Tugas Pemorsian sampai Packing
Anggaran OMC

Mengenai anggaran Operasi Modifikasi Cuaca, Pramono menjelaskan bahwa Pemprov DKI telah mengalokasikan anggaran khusus untuk satu bulan penuh, bahkan dilakukan pergeseran dari pos Belanja Tidak Terduga (BTT).
Ia mengatakan, pola penganggaran OMC saat ini jauh lebih fleksibel dibandingkan sebelumnya.
"Cukup pokoknya. Karena anggarannya tidak seperti dulu. Dulu anggarannya hanya untuk modifikasi cuaca paling 3 hingga 5 kali. Ini mau sebulan pun akan diambil," ujarnya.
Terkait besaran kerugian akibat banjir, Pramono mengaku belum menerima laporan resmi. Namun, ia menilai dampaknya tidak terlalu besar karena hanya berupa genangan dan tidak menimbulkan kerusakan berarti.
Baca Juga: Pemadaman Listrik 6 Hari Kapan Berlangsung? Cek Titik Lokasi dan Jadwalnya
"Saya belum dapat laporan, tetapi kalau melihat penanganannya seharusnya enggak besar ya, karena dampaknya hanya genangan, bukan sesuatu yang menimbulkan kerusakan," pungkasnya.
Sebagai informasi, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya pada Minggu, 18 Januari 2026 menyebabkan 47 RT serta 23 ruas jalan tergenang. (cr-4)